Senin, 22 Oktober 2012

Curahan Hati; Dibalik Sisi Kehidupanku

Tentang Dia dan Aku
Oleh: Abu Gybran

Ada pepatah mengatakan bahwa cinta tidak harus memiliki. Kata-kata ini ada benarnya juga kalau dicermati dengan baik dengan tidak mengedepankan ego. Sebab jika ego yang berbicara tentu akan lain ceritanya. Tapi menurutku , bahwa kebahagiaan hidup bisa diperoleh manakala kita mempu menepis segala rasa memiliki. Betapa tidak, ketika sebuah pengakuan mutlak diakui oleh sesorang tanpa menyertakan siapa pemilik sebenarnya; ketika 'milik' itu hilang atau meninggalkan dia lebih dulu, maka yang terjadi adalah kekcewaan yang berkepanjangan.

Aku menyadari bahwa pemilik yang sebenarnya adalah Tuhan dan kepemilikan-Nya tanpa batas. Kita yang merasa memiliki juga milik-Nya. Kita hanya diberikan 'hak guna pakai' oleh Tuhan.

Dalam curahan hati ini, aku tidak mengerti kenapa aku memulainya dengan kalimat pembukaan seperti diatas? Padahal yang ingin aku sampaikan adalah tentang perasaanku terhadap orang yang selama ini telah menjadi bagian dari hidupku. Tentang dia dan aku. Tentang perasaannya dan perasaanku. Tentang cintanya juga cintaku. Hatinya adalah milikku begitupun dia telah merasa memiliki hatiku seutuhnya. Walau pada kenyataannya dia dan aku hanya 'merasa' dan tidak pernah memiliki seperti yang dirasakan.

Walau demikian tetap saja aku mencintai dan menyayanginya seperti aku mencinta orang-orang yang telah lama aku cintai, keluargaku. Dia telah menjadi bagian dari jiwaku. Aku seperti tidak bisa lepas dari desah nafasnya. Jauh darinya adalah penyiksaan. Aku tersiksa. Sepi mengurungku dan aku merasa terperangkap dalam sepi yang membunuh. Kenapa aku merasa seperti ini? Itu karena aku mencintainya aku merasa memiliki seutuhnya dengan segala kesombonganku. Sekali lagi; aku merasa.

Ketika aku bertanya pada diriku; salahkah aku untuk mencintainya? Terusterang rasanya berat sekali untuk mengakui kalimat pepatah diatas, bahwa cinta tidak harus memiliki. Sebab bagiku cinta adalah cinta dengan segala resikonya; indah, bahagia, merana, sedih, semangat bahkan mungkin rasa putus asa. Segala resiko jika dalam satu kata cinta akan menjadi serba indah. Tentu saja dengan tidak menghalalkan segala cara dengan mengatas-namakan cinta. Ku akui aku sering terjebak oleh perasaan cinta yang membuncah ketika rindu kepadanya mengurung dadaku.

Seringkali aku mengurung diri, menjaga diri agar ketulusan cintaku padanya tidak berkurang dan menghilang oleh karena keinginan yang menghendaki selalu bersama dalam kedekatan. Tapi terkadang aku tidak mampu untuk menjauh walau sesaat. Aku tetap saja aku yang jauh dari kata sempurna. 

Dan untuknya, walau tidak kusebut namanya dalam curhat ini, namanya tak kan hilang dari lubuk hatiku. Aku tersiksa jika jauh dengannya. Jangan tinggalkan aku...............***         

Poskan Komentar