Tampilkan postingan dengan label Cerita Bersambung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Bersambung. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 September 2012

Cerber : HITAM PUTIH SUMIRAH (4)

Petaka Malam Hitam
Oleh: Abu Gybran

Sebelum Sumirah meneruskan ceritanya, Ibas memesan minuman air mineral pada Sumirah. Dan tanpa berpikir panjang, Sumirah langsung bangkit berjalan mengambil dua botol kemasan kecil dari lemari pendingin, yang letaknya agak jauh dari tempat duduk Ibas. Kesempatan sesaat itu digunakan Ibas untuk menumpahkan minuman bir ke tong sampah didekatnya. "Alhamdulillah, aku terselamatkan untuk tidak meminum minuman setan ini," ungkap hatinya bersyukur.

Dan yang membuatnya merasa lebih lega, kini dia tidak nampak seperti orang asing karena di mejanya ada sebotol minuman bir yang sudah kosong. Setidaknya para pengunjung yang lain beranggapan bahwa Ibas bagian dari mereka. Sebab akan terlihat ganjil di mata mereka terlebih oleh pemilik warung, datang ke warung pojok kalau cuma ngobrol saja dengan pelayan. Bahkan bisa dicurigai sebagai petugas keamanan dan ketertiban yang menjadi musuh bagi para pemilik warung remang-remang.

Ibas menyaksikan kehidupan malam itu seperti berada di dunia lain. Kehidupan yang samasekali belum pernah dilihatnya. Dia hanya pernah mendengar dari cerita orang-orang. Sementara bagi para pengunjung adalah hal biasa atau boleh dikatakan kurang pas kalau minum-minum tidak sampai mabuk.atau mengajak para pelayan yang merangkap pelacur itu main esek-esek di kamar sempit yang letaknya dibelakang warung atau keluar cari penginapan lain.

"Minumannya, kang," kata Sumirah sambil menyodorkan sebotol minuman mineral yang dipesan Ibas. Tanpa mikir dua kali dia langsung meneguk minumannya karena memang tenggorokkannya sudah terasa kering. Hampir satu jam dia menahan haus. Itu karena dia tidak mau memotong cerita Sumirah. Ya, karena keterbatasan waktu yang diberikan si Mamih itu hanya tiga jam saja. Jika lebih dari waktu yang ditentukan, dia harus bayar uang tambahan lagi.

"Mirah, berapa lama kamu jadi pembantu di rumahnya tuan Kiem Lian itu?" Ibas bertanya dengan pertanyaan baru.

"Hanya dua tahun, kang."

"Dua tahun?"

"Ya, lebih satu bulan kalau gak salah. Aku sudah tak ingat lagi, kang."

"Kenapa berhenti kerja?"

Sumirah terdiam beberapa saat. Dia berusaha mengingat-ingat kembali kejadian yang telah menimpanya. Kejadian yang sebenarnya ingin dia lupakan. Sebuah peristiwa yang teramat pahit untuk diingat. Petaka malam hitam dimana dia tak mampu mempertahankan kesuciannya. Kesucian dirinya telah dirampas paksa oleh tuan majikannya. Sesekali Sumirah menelan air liurnya. Dia berusaha menenangkan dirinya yang mulai gemetaran karena amarah. Tenggorokkannya mendadak kering. Tatapannya kosong. Lidahnya menjadi kelu. Sepertinya dia sangat membenci peristiwa itu. Dengan terbata sambil berusaha menahan tangis, dia melanjutkan ceritanya itu.

Dalam penuturannya; saat itu tengah malam, karena didera rasa lelah yang teramat sangat, Sumirah tertidur tanpa mengunci pintu kamarnya terlebih dahulu. Pintu kamarnya bahkan tidak tertutup rapat. Kebetulan malam itu tidak seperti biasanya, tuan majikannya malah masih nonton televisi diruangan tengah. Tuan majikannya memang hoby nonton sepak bola. Waktu tuan majikannya mau mengambil air minum ke ruangan dapur, dia melihat pintu kamar Sumirah yang tidak tertutup rapat. Karena udara malam saat itu cukup dingin, hatinya tergerak untuk menutup pintu kamar Sumirah agar udara dingin tidak masuk. Lewat celah pintu yang sedikit terbuka, sepintas dia melihat Sumirah yang tertidur pulas tanpa selimut. Dia tertegun, hatinya terusik, penasaran karena melihat posisi tidur Sumirah yang kaki kirinya menggantung ditepi ranjang. Saat itu niat baiknya mulai dikalahkan oleh bisikkan setan. Dalam tidurnya, Sumirah tidak tahu kalau malam itu petaka tengah merayap perlahan menghampirinya. Setan benar-benar telah merasuki jiwa tuan majikannya. Sumirah telah kehilangan sesuatu yang dijaganya, kesucian.

"Malam itu aku benar-benar telah kehilangan," ungkapnya hampir tak terdengar. Sumirah terdiam. Dia seakan tak sanggup lagi untuk menceritakan kisahnya. Dia menatap Ibas yang serius mendengarkan ceritanya. Ibas menarik napas panjang seakan dia pun larut dalam kesedihan yang dialami oleh Sumirah.

"Sudahlah, Mirah. Jika kau tak sanggup, jangan kau teruskan. Tapi.....apakah setelah kejadian itu kau tidak melaporkan ulah majikanmu ke Polisi?"

"Tidak, kang. Aku takut, lagi pula aku masih butuh pekerjaan. Tuan majikanku mengancam akan memecatku kalau aku buka mulut."

Ibas berusaha memahami keadaan Sumirah. Seorang gadis lugu yang tentu saja tidak memahami seluk-beluk hukum dan dia lebih memilih untuk diam. Karena dia beranggapan kejadian yang menimpanya merupakan aib yang tidak boleh diceritakan pada siapa pun. Dia berusaha menutupinya sendiri. Dia tidak sanggup membayangkan betapa malunya jika orang lain tahu tentang aib yang menimpanya itu.

Dirinya mencoba untuk terus bertahan dan bersabar untuk terus bekerja menjadi pembantu pada majikannya itu. Harapannya hanya satu; semoga kejadian yang menjijikan itu tidak terulang kembali.

Namun dalam perjalanannya, harapannya itu tidak berjalan seperti apa yang diingininya. Bahkan teramat jauh menyimpang dari apa yang diharapkannya. Aib yang berusaha dia tutupi telah benar-benar menenggelamkannya. Tuan majikannya telah mengulang perbuatan yang sama berkali-kali. Yang menyakitkan hatinya adalah ternyata nyonya majikannya tahu apa yang dilakukan suaminya terhadap Sumirah, namun dia tidak mampu untuk menolong Sumirah. Nyonya Kiem Lian hanya terdiam, bahkan lebih cenderung membiarkan suaminya meniduri Sumirah karena dia merasa sudah tak mampu lagi memberikan kesenangan biologis pada suaminya itu.

"Suatu malam, aku kabur dari rumah majikan saat mereka tidur. Aku sudah tidak tahan untuk terus-terusan menjadi budak sek tuan Kiem Lian," ungkapnya dengan hati yang telah luluh-lantak. Menurutnya saat dalam pelariannya, dia tidak tahu mau kemana. Yang terpenting adalah jauh dari rumah majikannya itu. Dia hanya mengikuti langkah kakinya. Dia ingin membuang bayang-bayang wajah majikannya yang teramat nyinyir itu. Laki-laki biadab yang telah merampas kehormatan dirinya.

Dengan menumpang kendaraan ojek, malam itu Sumirah pergi jauh meninggalkan rumah majikannya. Tidak ada yang tahu dia mau kemana. Hanya malam yang mengiringinya. (Bersambung) ***

Sabtu, 04 Agustus 2012

Cerber : HITAM PUTIH SUMIRAH (3)

Tutur Sumirah
Oleh : Abu Gybran

"Aku, Sumirah. Aku lahir disebuah desa kecil yang jauh dari keramaian, yaitu sebuah desa yang terletak disalah satu kaki Gunung Halimun bagian selatan. Awalnya aku merantau ke Tangerang bekerja sebagai pembantu rumahtangga atau yang lebih populer dengan sebutan babu. Maklum saja aku kan cuma tamatan SMP. Aku bekerja disebuah rumah milik tuan Kiem Lian dari keturunan etnis Tionghoa dari Teluk Naga. Aku biasa menyebutnya dengan kata tuan. Istrinya, sudah lama lumpuh dikedua kakinya. Aku tidak tahu namanya, aku hanya memanggilnya dengan kata nyonya," tutur Sumirah mengawali cerita hidupnya. 

Pengakuannya, hampir setiap hari dia selalu berdua dengan sang nyonya karena keluarga ini tidak mempunyai seorang anakpun. Sementara tuan Kiem Lian selalu berangkat pagi dan pulang sekitar jam 10 malam. Tuan bekerja di toko miliknya di Pasar Anyar, Tangerang. 

Dia sangat betah bekerja dikeluarga ini, terlebih tuan dan nyonya sangat baik kepadanya. Dia sering mendapatkan hadiah atau ampao ketika Hari Raya Imlek. Bahkan dia merasakan seperti tidak perlakukan sebagai babu, tapi seakan sebagai bagian dari keluarga. Entahlah, apakah karena mereka tidak mempunyai keturunan? Pertanyaan seperti ini yang sering mengganggu pikirannya. Tapi dia tidak mau memikirkan hal ini terus, dia tidak mau terjebak apalagi berprasangka buruk. Terlebih kepada tuannya yang tanpa sepengetahuan nyonya sering memberikan uang lebih diluar gaji bulanannya.

"Tuan, ini untuk aku?" tanya Sumirah suatu hari ketika menerima uang dari tuannya, bukan uang gajinya. Dia kerapkali bertanya demikian karena takut uang yang diberikan tuannya itu bukan untuk dirinya tapi uang untuk belanja harian. Jumlahnya cukup besar menurut ukurannya, kadang melebihi gaji bulanannya.

"Ya, untuk kamu, Mirah. Hasil dari keuntungan toko bulan ini cukup lumayan," jelas tuan Kiem Lian. Tuannya memberikan uang itu ketika Sumirah berada di dapur saat menyiapkan makan malam. Sementara si nyonya berada ditengah, diruangan keluarga diatas kursi rodanya sedang nonton televisi. Sumirah melihat ada senyum kecil di bibir tuannya. Dia sempat menatapnya sesaat. Ada perasaan ganjil menyelinap dalam benak hatinya. Sebab bukan sekali atau dua kali tuannya memberikan uang diluar gajinya, tapi sering. Dan dia kerap menyaksikan senyum genit tuannya itu saat memberikan uang padanya.

"Sudah kamu simpan saja uang itu, tapi tolong jangan kamu ceritakan ke nyonya, ya," lanjut tuannya sambil meninggalkan Sumirah di dapur. Sepeninggal tuannya, dia langsung bergegas masuk ke kamarnya untuk menyimpan uang pemberian tuannya itu. Kamar Sumirah terletak dibelakang bersebelahan dengan dapur.

Jam dinding menunjukkan pukul 23:00. Pekerjaan Sumirah baru saja selesai. Waktunya istirahat tidur untuk melepas lelah. Tuan dan nyonya sudah masuk kamar terlebih dahulu. Mereka sudah tertidur. Malam itu hujan cukup deras dan udara menghembus dingin lewat celah-celah lubang angin. Sumirah merasakan seperti mati kehidupan malam itu. Sepi, hanya sesekali terdengar lolongan anjing milik tuannya yang kandanganya terletak disamping rumah dibawah pohon jambu.

Matanya sulit sekali dipejamkan malam itu. Sumirah sulit tidur dimalam hujan itu. Dia masih kepikiran soal uang pemberian tuannya. Menurutnya ada ketidakwajaran. Tapi dia selalu berharap semoga saja tuannya tidak mempunyai maksud lain. Sebab katanya, dia sering mendengar cerita tentang kebaikan majikan terhadap pembantunya sering berujung pada persoalan yang menyakitkan. Terlebih dirinya saat itu baru menginjak usia 19 tahun. Ada rasa takut yang dia tidak bisa pungkiri. "Aku harus bisa menjaga diri," hatinya membatin.

Sampai tengah malam pikirannya menerawang kemana-mana. Dia teringat kedua orangtuanya di kampung. Tidak ada siapa-siapa lagi di rumah itu kecuali kedua orangtuanya. Sumirah memang anak tunggal. Sumirah terpaksa meninggalkan mereka dan menitipkan pada pamannya yang rumahnya bersebelahan dengan rumah kedua orangtuanya.

Dalam penuturannya malam itu dihadapan Ibas, Sumirah terdiam sesaat. Ibas menangkap, betapa Sumirah ingin membahagiakan kedua orangtuanya. Orang yang sangat dia cintai. Sumirah berusaha melepaskan belitan kemiskinan yang senantiasa mengakrabi keluarganya. Makanya dia berusaha mengirimkan sebagian hasil kerjanya tiap bulan untuk kedua orangtuanya. Sumirah berusaha membuat kedua orangtuanya tersenyum.

"Rasanya sangat berat, kang." Sumirah melanjutkan penuturannya. "Ada kepedihan di hatiku saat melihat mereka menangis ketika aku melangkah meninggalkan mereka, terutama ibuku," lanjutnya hampir tak terdengar.  Pikirannya menerawang saat kali pertama dia meninggalkan kampung halamannya.

Malam kian larut, seperti yang diceritakan Sumirah. Seperti malam-malam sebelumnya, tiap kali dia menerima uang diluar gajinya yang diberikan tuannya, matanya selalu sulit untuk diajak tidur. Dia sudah lelah, bahkan teramat lelah. Ada kegelisahan yang menyelimutinya. Namun menjelang shubuh, saat hujan mulai mereda, dia terlelap. Pada tidurnya yang sesaat, dia sempat melihat senyum kedua orangtuanya berkelebat dalam mimpi pendeknya. *** (Bersambung)                 

Rabu, 18 Juli 2012

Cerber : HITAM PUTIH SUMIRAH (2)

Warung Pojok
Oleh: Abu Gybran

Sore hari saat senja merona, sepulang kerja, Ibas tidak langsung pulang kerumah. Kali ini, setelah perburuannya gagal di Taman Sari, dia bertekad untuk mendatangi warung remang-remang yang berderet disepanjang Jalan Raya Serang, tepatnya di kilometer 32. Warung remang-remang yang lebih populer dengan sebutan warung pojok bagi para pelanggannya, awalnya hanyalah tempat mampir para sopir truck untuk sekadar makan, ngopi atau rehat sejenak setelah menempuh perjalanan jauh. Namun dalam kelanjutannya, para pemilik warung sengaja mempekerjakan perempuan-perempuan muda sebagai pelayan untuk menarik pelanggan yang tentu saja adalah para lelaki hidung belang.

Warung pojok yang berubah fungsi, perlahan tapi pasti, berubah menjadi tempat pelacuran terselubung. Minuman keras menggantikan hidangan kopi panas. Pelanggannya pun berubah tidak hanya para sopir truck, tapi sudah mewabah pada para penikmat sek dari berbagai kelas sosial.

Warung pojok yang dikunjungi Ibas letaknya tidak jauh dari kawasan industri. Jadi sangat wajar jika selalu ramai pengunjung. Keramaian sangat nampak terlebih pada malam minggu, banyak laki-laki yang masih kategori muda yang hanya sekadar beli rokok atau nongkrong-nongkrong didepan warung.

Selepas maghrib kehidupan di warung pojok makin menggeliat menunjukkan sifat aslinya sebagai tempat pelacuran. Ibas menelisik dan pandangannya tertuju pada salah satu warung yang dia anggap cukup ramai pengunjungnya. Ibas langsung masuk. Dia berusaha untuk tidak terlihat canggung agar mata yang menatapnya mengira kalau dia adalah memang pelanggan yang sering berkunjung. Walau sebenarnya dia tidak bisa memungkiri kalau hatinya benar-benar merasa khwatir. Dia takut ada orang yang mengenalinya. Sebab lokasi warung pojok tidak jauh dari tempat tinggalnya, hanya beberapa kilimeter. Tentu saja akan banyak orang yang salah sangka yang akan menyudutkan dirinya sama dengan lelaki hidung belang. "Ini sangat bahaya," bisik batinnya penuh cemas.

Ada keraguan sesaat yang menjebak, tapi kemudian Ibas sadar bahwa pekerjaannya memang beresiko. "Toh, aku tidak melakukan apa-apa. Tuhanku Maha Tahu," dia berusaha menguatkan hatinya.

Didalam ruangan yang tidak terlalu lebar dengan penerangan lampu yang sengaja dibuat remang-remang, Ibas merasakan napasnya sesak karena banyaknya asap rokok. Belum lagi bau minuman yang menyeruak menghantam penciumannya. Gelaktawa lelaki hidung belang yang mulai mabuk sangat kental dengan kehidupan hitam. Musik dangdut cirebonan, tarling, ikut mewarnai suasana. Suaranya cukup keras dengan ditingkahi dentingan gelas-gelas minuman beradu.

Mata Ibas menyapu seluruh ruangan. Dipojok dia melihat perempuan gendut setengah baya, rambutnya sebahu dengan sedikit dicat warna merah pada bagian depannya. Tangannya tak henti-henti mengipaskan kertas koran yang dilipat ketubuhnya yang berkeringat. Dia duduk mengawasi setiap gerak-gerik para pelayan yang sibuk melayani pelanggan. Sesekali Ibas memperhatikan perempuan gendut itu memonyongkan mulutnya mengeluarkan asap rokok. Ibas menduga, dialah pemilik warung yang biasa dipanggil Mamih oleh para pelayan dan para pelanggannya. Mamih bukan hanya sebagai pemilik warung, tapi juga merangkap sebagai mucikari atau germo.

"Wah, Mih, ramai sekali malam ini, gak seperti biasanya," kata Ibas setelah berada didekat perempuan yang biasa dipanggil Mamih itu. Ibas langsung duduk di bangku yang kebetulan kosong dihadapannya. Dia berusaha seakrab mungkin. Dia membuka sebungkus rokok yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Dia berusaha merokok sambil menahan batuk, terpaksa, karena dia memang bukan perokok. Si Mamih menatapnya sesaat, sikapnya agak acuh. Tangan kanannya mematikan rokok diasbak yang sudah penuh dengan puntung rokok.

Mamih menarik napas dan mengeluarkan asap rokok yang terakhir melalui lubang hidungnya yang pesek. Sekilas Ibas melihat senyum Mamih yang sumringah.

"Biasa saja, mas. Warung pojok akan selalu ramai jika ada pelayan barunya," ujarnya sambil ngekeh tertawa kecil. Tawanya sangat jelek, napasnya juga bau naga karena banyak merokok.

"Pelayan barunya yang mana, Mih?"

"Itu yang ada di meja paling tengah," Kata Mamih sambil mengarahkan jari telunjuknya pada seorang pelayan. Perempuan muda yang usianya sekitar 22 tahun. Penampilannya sangat berbeda dengan pelayan-pelayan seniornya yang dandanannya menor-menor.

"Boleh saya minta ditemenin sama dia, Mih?"

"Boleh saja, mas. Mau disini atau pergi keluar?"

"Disini saja, gak kemana-mana. Cuma nemenin saya minum," ungkap Ibas berharap. Ibas dengan sangat terpaksa memesan sebotol minuman bir untuk memuluskan rencananya. Minuman beralkohol yang selama ini dia jauhi. Tak pernah terlintas sedikitpun dalam hatinya untuk bersentuhan dengan minuman yang diharamkan dalam agama Islam. Bukan cuma rasanya yang dia belum tahu, tapi harganya pun sangat mahal menurut ukuran kantongnya. Harganya bisa tiga kali lipat dari harga Supermarket sekalipun. Tangan Mamih sangat terampil membuka botol bir dan menuangakannya perlahan pada gelas dihadapan Ibas.

"Silakan diminum, saya akan pangilkan orangnya," kata Mamih sambil bangkit dari tempat duduknya. Tak lupa di meneguk sisa minumannya yang tinggal setengah gelas. Dia sudah terbiasa meminum minuman yang beralkohol. Sendawanya, waw.......sangat jelek sekali seperti lengkingan seekor keledai. Ibas pun mengangkat minuman yang sudah terisi bir dan mendekatkan kemulutnya. Dia hanya pura-pura agar tidak terlihat aneh dihadapan si Mamih. Jangankan meminumnya, mencium baunya saja dia sudah tersedak. "Puih, apa enaknya minuman ini, baunya saja seperti bau air seni orang dewasa," katanya dalam hati.

"Sumirah," panggil Mamih agak berteriak karena suaranya hampir kalah oleh suara musik yang berisik. 

"Ya, Mamih. Ada apa?" Perempuan muda bernama Sumirah itu menghampirinya. Dari logatnya yang sedikit mengayun, bisa ditebak, kalau Sumirah pasti orang Sunda. 

"Temenin tamu ini, Mamih mau keluar dulu sebentar cari angin. Mamih gerah."

Si Mamih ngeloyor keluar sambil tangannya memasukkan uang ke kantong celana jeans-nya yang ketat. Sebelumnya Ibas memang telah memberikannya uang dua ratus ribu agar bisa ngobrol dengan Sumirah. 

"Silakan duduk," kata Ibas pada Sumirah yang masih berdiri. Ibas tidak memperkenalkan dirinya, karena dia beranggapan nama pelanggan seperti tidak penting di warung pojok ini. Lagi pula, bagi para pelayan nama pelanggan memang tidak begitu penting, sebab tugas mereka hanya melayani atau menemani minum-minum kalu tidak diajak kencan keluar sambil berharap uang tip. Terkadang mereka pun sering mendapatkan uang saweran saat menemani pelanggan berjoget dalam kedaan mabuk tentunya. Ibas benar-benar menyaksikan drama kehidupan hitam malam itu.

"Kamu sudah berapa lama kerja disini?" Tanya Ibas membuka obrolan. Semula Ibas ingin merekam obrolan itu dengan telephon genggamnya, tapi percuma karena suasananya cukup berisisk. Dia berusaha mengingatnya saja dan mencatatnya dalam hati.

"Baru tiga hari, mas. Oya, maaaf, aku panggilnya akang atau mas saja?"

"Terserah kamu saja, Mirah."

"Akang saja, ya? Biar akrab."

"Ya, boleh," jawab Ibas singkat.

Ibas mematikan rokoknya keasbak yang hanya sempat dia isap sekali. Dia menatap Sumirah sesaat. Cantik juga, pikirnya. Rambutnya yang hitam panjang dibiarkan terurai. Ada lesung pipit dikedua pipinya. Saat itu Ibas memperhatikan seperti ada kebingungan yang nampak di wajah Sumirah. Sumirah seperti sedang memikirkan sesuatu. Barangkali, Ibas menduga-duga, mungkin Sumirah bingung melihat penampilannya yang berbeda dengan para pelanggan yang biasa mampir. Sumirah pun melirik gelas minuman Ibas yang masih penuh.

Dengan tidak membuang waktu, Ibas langsung mengajaknya ngobrol. Awalnya hanya obrolan basa-basi karena Ibas tidak mau Sumirah tahu tentang maksud dia yang sebenarnya. Setelah obrolan makin cair, sampai juga pada apa yang Ibas inginkan. Sumirah tidak sungkan-sungkan menceritakan tentang perjalanan hidupnya hingga dia terdampar bekerja menjadi pelayan sekaligus melacurkan dirinya di warung pojok ini. Padahal sebelumnya dia belum pernah bercerita kepada siapapun, terlebih tentang siapa dia yang sebenarnya. Tentu saja saat itu Ibas berusaha menjadi pendengar yang baik dan hanya sesekali melontarkan pertanyaan disaat Sumirah menuturkan cerita hidupnya.

Malam terus merayap, suasana makin menggila. Ibas terbawa dan menyatu dalam penuturan tentang kisah hidup Sumirah yang pilu. Kisah hidup yang semua orang pasti tidak mau untuk menjalaninya. Teramat berat dan teramat hitam.*** (Bersambung)    



          


Senin, 16 Juli 2012

Cerber: HITAM PUTIH SUMIRAH (1)

Menyasar Taman Sari
Oleh: Abu Gybran

Disudut Kota Serang, senja belum begitu jauh meninggalkan hari yang mulai beringsut temaram. Hasan Basri bergegas menyusuri Jalan Tirtayasa yang basah karena hujan. Lampu penerangan jalan banyak yang mati. Sampah yang berserakan bertingkah genit, bermain-main dengan angin. Gerobak-gerobak pedagang kaki lima yang berderet dikiri dan kanan jalan hampir memakan seluruh ruas jalan, terkesan betapa semerawutnya sudut kota. Potret kehidupan yang masih dianggap wajar karena hampir bisa dijumpai disetiap sudut kota di negeri ini. 

Hasan Basri yang lebih akrab dipanggil Ibas itu, sesekali melompat menghindari genangan air. Dalam benaknya saat itu hanya ada satu tujuan; dia harus bertemu seseorang. Ya, seseorang yang akan dia mintai keterangannya perihal kehidupan malam. Ibas sedang melakukan perburuan untuk melengkapi cerita novelnya yang pertama. Sebenarnya dia sudah lama ingin mengangkat cerita dibalik kisah perempuan-perempuan malam pada sisi yang lain, yang berbeda. Bukan hanya transaksi esek-esek yang memang menjadi salah satu pekerjaan mereka, dia meyakini dibalik itu semua pasti ada sisi baik yang mereka kerjakan. Tidak melulu semuanya hitam.

Pada sisi yang lain, Ibas pun sering menyaksikan perlakuan yang diskriminatif dalam masyarakat luas terhadap perempuan malam ketika mereka berusaha untuk bertobat. Dalam pandangan Ibas, semestinya masyarakat ikut peduli membantu mereka mendapatkan haknya kembali pada kehidupan normal. Bukan mencibir dan memojokkan mereka. Ibas ingin membuktikan; bahwa seburuk-buruknya manusia selalu punya keinginan untuk kembali pada kehidupan yang normal. 

Jam di tangannya menunjukkan pukul 19:00 saat dia sampai disebuah tempat yang dia tuju, yaitu Taman Sari. Sebuah taman yang tidak terlalu luas yang terletak tidak begitu jauh dari statsiun kereta api Serang. Taman kota yang bila malam berubah menjadi 'koloni' tempat mangkalnya perempuan-perempuan penjaja sek kenikmatan sesaat dan tempat waria mencari mangsa. Padahal menurut sejumlah pedagang kaki lima, petugas Satuan Polisi Pamong Praja sering melakukan razia penertiban terhadap mereka yang mangkal ditempat ini. Namun penyakit kambuhan masyarakat ini hanya hilang sesaat kemudian menjamurt lagi. Siapa yang harus disalahkan? Ketika mereka melakukan aktivitas seperti ini karena tuntutan ekonomi, karena terpaksa.

Sesaat Ibas celingukkan, bingung. Dia tidak tahu siapa yang harus dan bisa diajak bicara? Pandangannya kurang jelas karena lampu taman banyak yang mati. Tempat-tempat duduk di taman satupun tidak ada yang kosong, bahkan dia menyaksikan tidak sedikit pasangan yang menurutnya tidak muda lagi menggelar koran dipojokkan taman hanya untuk kencan. Baginya ini adalah pandangan dan pengalaman pertama dalam hidupnya.

"Cari teman kencan, ya, mas?" Tanya seorang perempuan yang menghampirinya dari arah belakang. Ibas berbalik dan pandangannya menelisik sesaat pada si penanya. Dalam keremangan malam dia dapat memastikan bahwa yang mendekatinya adalah perempuan muda dengan rambut sebahu dan mengenakan T-shirt ketat sampai jelas tergambar lekuk tubuhnya. Penampilan perempuan itu makin ngejreng dengan sepatu hak tingginya.      

"Ya," jawab Ibas singkat. Sesaat dia gelagapan dan sedikit gemetaran. Namun untungnya dia segera dapat menguasai keadaan. Pemandangan yang tidak terbayangkan sebelumnya. Sebab dia dilahirkan dan dibesarkan ditengah lingkungan yang agamis. Hingga dia berkeluarga, baru memilih tempat tinggal yang jauh dari kampung halamannya. Rumah sederhana yang tidak begitu jauh dari tempat kerjanya. Bahkan kakenya merupakan seorang pemimpin pondok pesantren yang terletak diselatan Banten. Dan dia adalah salah seorang alumni pesantren itu.

"Pucuk dicinta ulam pun tiba. Kebetulan, mas. Aku lagi kosong, nih," ujar perempuan yang tadi menyapanya manja. "Namaku Nita, mas," lanjutnya lembut sambil menyodorkan tangan.

Ibas berusaha bersikap akrab dan langsung menjabat tangan Nita yang baru dikenalnya itu. Sebenarnya hatinya merasa berat karena dia tahu perempuan yang dijabat tangannya itu bukan muhrim. "Astaghfirallah, aku telah berbuat kesalahan," dia membatin penuh penyesalan.   

Ibas tidak langsung menyebutkan namanya. Dia diam sesaat. Dia seperti merasakan keganjilan saat mendengar dan gaya bicara Nita. Seperti dibuat-buat. "Wah, jangan-jangan perempuan yang ada dihadapanku ini seorang banci," kembali hati kecilnya membatin penuh selidik. Dia segera menarik tangannya. Saat itu, jabatan tangan Nita erat sekali.

"Ah, tidak. Aku kesini mencari temanku," Ibas beralasan.
"Gak usah malu-malu begitu, sih, mas."
"Benar, sungguh aku hanya mencari temanku," tegas Ibas.
"Ih, si mas ini, bikin gemas, deh."

Nita berusaha memeluk Ibas, karena dia melihat Ibas berusaha menghindarinya. Ibas memang berusaha mengelak sambil menepiskan kedua tangannya perlahan. Dia berusaha begitu agar Nita tidak merasa tersinggung. Tapi Nita ngotot, bahkan makin menggila menarik-narik tangan Ibas. Suaranya sudah tidak terkontrol lagi, seperti bukan suara perempuan."Ah, dugaanku benar, dia memang waria."

Nita memang benar waria atau sering disebut banci. Mahluk yang selama ini oleh Ibas dianggap mahluk yang paling aneh. Menurutnya aneh karena orang seperti Nita, ko, bisa merasa nyaman dengan penyimpangan sek yang menderanya. Disengaja ataupun tidak disengaja penyimpangan sek adalah tetap salah dan berdosa besar dalam pandangan agama yang diyakini Ibas. Menurutnya, penyimpangan sek ini bukan kehendak Tuhan....!!! Tapi orang yang sakit jiwanya.

Nita terus berusaha memaksa dan Ibas benar-benar berontak. Dia lari meninggalkan tempat itu sambil mengucap istighfar berkali-kali. Seperti maling yang dikejar massa. Napasnya putus-putus. Untungnya dia bisa terbebas dari pelukkan dan kejaran banci pada malam naas itu.

Walau rencananya malam itu gagal, tapi setidaknya dia sudah mendapat gambaran sedikit bahwa kehidupan perempuan-perempuan malam itu sebenarnya tidak nyaman, keras dan sarat dengan persaingan. Terlebih bagi seorang Nita, seorang banci yang harus merombak penampilannya agar telihat cantik seperti perempuan sungguhan. Tentu untuk keperluan semua itu, Nita harus mengeluarkan biaya yang tida sedikit, sebab kalau sekadar dandan asal-asalan,....hehehehe....pasti pelanggannya banyak yang lari.

Kehidupan perempuan-perempuan malam yang kali pertama Ibas saksikan di Taman Sari, tidak seindah bulan purnama dan seharum bunga sedap malam. Penuh rekayasa. Hidup dalam lingkaran kebohongan. Penuh kepalsuan. Dan Ibas akan terus berusaha untuk mencari tahu lebih jauh dari apa yang telah ia dapatkan malam itu. Malam di salahsatu sudut Kota Serang, di Taman Sari. ***  (Bersambung)