Tampilkan postingan dengan label Lepas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lepas. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 November 2014

Sehangat Nasi Goreng dan Segelas Teh Manis

Oleh: Abu Gybran

Ketika orang-orang sibuk mendefinisikan arti pahlawan dalam kekinian pada peringatan hari pahlawan 10 November, aku justru mengartikan bahwa pahlawan saat ini adalah istriku. Betapa tidak, sehebat apa pun seorang suami pasti ada peran istri di belakangnya. Kedengarannya mungkin terasa lebay. Tapi aku mengatakan ini sesungguhnya dan bukan pura-pura apa lagi upaya pencitraan agar disebut suami setia.

Seperti halnya pagi ini, di meja makan sudah tersedia sepiring nasi goreng dan segelas teh manis. "Sebelum berangkat kerja sarapan dulu, pak." Katanya dibarengi dengan lengkung senyumnya yang khas dan tak pernah berubah. "Terima kasih (sayang)," jawabku singakat. Aku sengaja tidak menjaharkan kata sayang, aku hanya mengatakannya dalam hati. Menyembunyikan dan menyimpannya sebab menurutku, kata sayang tidak mesti selalu diungkapkan melalui ucapan. Rasa sayang akan lebih mempunyai makna jika diungkapkan melalui laku bahwa aku mencintainya hingga sampai di batas senja. Insya Allah.

Nasi goreng dan segelas teh manis, potret dari kesederhanaan rumah tanggaku. Sungguh terasa nikmat, sebab aku tahu istriku menyajikannya dengan segala ketulusan cinta. Aku dan istriku telah sepakat dan meyakini bahwa kebahagiaan itu bukan terletak pada seberapa besar harta yang dimiliki, tapi seberapa banyak yang bisa dinikmati. Selalu berusaha sabar itu kuncinya.

Istriku adalah pahlawanku. Barangkali kata-kata ini pun akan terasa lebay ditelinganya. Aku memang tak pandai memuji istriku dengan kata-kata. Aku justru menjadi pemalu, tidak seperti sebelum aku mendapatkannya dulu. Kreatifitasku mendadak hilang dalam menyusun kata-kata. Jangankan bersyair menyusun beberapa kalimat saja untuk mengungkapkan rasa sayang, aku sudah tak mampu. Syukurnya kehangatan bersamanya tidak pernah berubah. Tetap hangat seperti nasi goreng dan segelas teh manis buatannya. ***

Kamis, 25 September 2014

Cerita Bohong Seputar Batu Cincin

Oleh: Abu Gybran

Fenomena batu akik atau batu cincin berbagai jenis batu sedang digandrungi oleh banyak penggemarnya. Para pemburu batu cincin rela mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mendapatkan berbagai jenis batu. Batu kalimaya, batu ruby, batu bacan, batu sungai dareh, batu kucubung dll. Bukan hanya berburu soal keindahan batunya, tidak sedikit pula para penggemar batu akik ini yang mempercayai bahwa batu-batu itu mempunyai kekuatan ghaib. Mereka mempercayai bahwa dalam batu akik ada makhluk penunggunya atau yang lebih dikenal dengan istilah Khadam.

Entah sudah berapa kali saya mencoba menelusuri cerita-cerita bohong yang dikemas oleh tukang-tukang batu dan para normal yang mencari keuntungan dengan menempelkan label Mustika atau Jimat yang bisa mendatangkan manfaat bagi si pemakainya.  Kita simak cerita bohong dari beberapa khasiat batu-batu berikut:

1. Batu Kalimaya

Batu jenis kalimaya ini apa bila di sorot lampu atau senter akan mengeluarkan cahaya yang berpendar warna-warni, antik dan indah. Tapi dibalik keindahannya, sering dikaitkan dengan hal-hal ghaib. Bahkan kegunaannya bisa untuk menjaga badan alias kebal terhadap senjata tajam. Konon menurut ceritanya lagi, bahwa Mustika Batu Kalimaya ini khadamnya adalah seorang laki-laki tua setingkat syekh. Bukan hanya kebal terhadap senjata tajam bagi si pemakainya, batu jenis ini pun memiliki khasiat lainnya, di antaranya;
- Kekuatan pelet terhadap lawan jenis
- Selalu beruntung dalam bisnis dan pekerjaan
- Anti ilmu hitam dan
Seabrek-abrek cerita bohong lainnya.

2. Batu Kucubung

Batu jenis kucubung ini tak kalah indahnya dengan batu kalimaya. Warnanya ungu sangat memikat. Nah, cerita bohongnya adalah batu ini mengandung energi pengasihan. Khadam yang bersemayam dalam batu ini adalah seorang nenek-nenek yang memegang tongkat kayu. Khadam tersebut bernama mbah Sawitri.

Khadam mbah Sawitri ini konon katanya mampu juga membantu pemilik batu cincin untuk mendatangkan keberuntungan, ketentraman batin dan manfaat penyembuhan. Siapa sebenarnya mbah Sawitri? Entahlah, saya juga tidak tahu. Namanya juga makhluk ghaib tentu sulit melacak alamatnya......hehehehe

Dan masih banyak jenis batu lain dengan cerita-cerita bohong yang sengaja dibesar-besarkan untuk mendongkrak harga jualnya. Lain jenis batu lain pula khadamnya. 

Perbuatan Syirik

Sebagai manusia yang beriman kepada Allah tentu sangat dilarang mempercayai dan bergantung pada kekuatan lain selain pada kekuatan Allah SWT. Secara logika saja, rasa-rasanya sulit untuk mempercayai bahwa batu cincin bisa memberikan manfaat kepada pemakainya kecuali hanya sebatas keindahan. Tapi jika ada orang yang menyampaikan bukti bahwa setelah dia memiliki batu cincin tertentu kemudian dia merasakan efeknya. Jangan dulu percaya, sebab bisa saja setan ikut campur tangan dalam perkara ini. Jadi bukan karena efek batunya tapi efek dari perbuatan setan yang telah merasuki hati si pemilik batu.

Seperti yang telah saya singgung di atas, bahwa kebohongan-kebohongan yang dikemas sedemikian rupa terkait dengan batu akik ini telah banyak menghipnotis penggemarnya. Yang lebih miris lagi, tidak tanggung-tanggung pedagang atau tukang batu cincin menggandeng seorang ustadz untuk duduk di kios batunya. Tugas ustadz adalah menerangkan faedah atau kegunaan batu yang ditanyakan oleh calon pembelinya. Hadeeeehh......ustadz salah kaprah, seharusnya bertugas amar ma'ruf nahi munkar, bukan malah jadi penerang soal batu akik.

Mempercayai serta bergantung pada kekuatan lain selain pada kekuatan Allah SWT adalah perbuatan syirik. Dan termasuk perbuatan dosa besar. Astaghfirolloh........***

 

Senin, 22 September 2014

Terima Kasih Untuk Pemirsa

Oleh: Abu Gybran

Melihat grafik pemirsa blog saya, sungguh saya tidak menyangka jika blog saya yang sederhana ini bukan hanya dibaca oleh sahabat-sahabat dari negeri sendiri, Indonesia tapi juga dibaca oleh sahabat-sahabat dari Eropa dan utamanya adalah dari pemirsa di Belanda. Tegang bercampur rasa haru, kenapa? 

Pertama, saya merasa bahwa tulisan saya yang didominasi oleh beragam puisi masih jauh dari kata sempurna. Nilai sastranya juga masih teramat kurang. Hal inilah yang membuat saya merasa tegang. Saya harus terus berusaha agar tulisan yang saya sajikan dapat dinikmati oleh pemirsa tanpa membuat pembaca kecewa. Oleh karenanya saya selalu berharap ada kritikkan atau masukan sehingga saya bisa terus mengasah kemampuan saya.

Kedua, rasa haru dan bahagia tentunya bisa berbagi dengan sahabat-sahabat lintas benua. Saya merasa begitu dekat walau sejatinya berjauhan. Melalui blog saya inilah saya mampu berkeliling hampir keseluruh dunia. Sungguh ada kesenangan tersendiri dalam diri saya bisa berbagi, berdiskusi banyak hal dengan pemirsa setia saya.

Ternyata berbeda bangsa, bahasa, ras, agama tidak menjadi penghalang untuk sahabat, saudara bahkan menjadi keluarga besar. Saling menghormati telah mampu melahirkan rasa cinta dan sayang antar sesama. Indahnya hidup merdeka. 

Terima kasih untuk pemirsa semuanya yang telah sudi meluangkan waktunya mampir ke blog saya yang sederhana ini. Semoga yang tersaji di blog ini kiranya dapat memberikan kepuasan, kesenangan dan manfaat.*** 

 

Sabtu, 20 September 2014

Pasar Malam; Pasar Kelas Buruh

Oleh: Abu Gybran

Istilah Pasar Malam barangkali bukan hal asing lagi di telinga kita terutama rakyat kecil yang berpenghasilan menengah ke bawah dan utamanya lagi adalah buruh pabrik. Pasar dadakan yang keberadaanya kerap muncul seminggu sekali pada suatu tempat pemukiman warga, adalah trik para pedagang kaki lima dalam upaya menjemput pembelinya.

Fenomena pasar malam ini mulai menjamur pada tahun 2000-an. Hal ini merupakan upaya para pedagang kecil untuk bertahan dari gempuran merebaknya mini market-mini market hingga kesudut-sudut pemukiman warga. Persaingan yang tidak imbang ini telah banyak memakan korban para pedagang kecil. Kondisi seperti ini juga yang kerap menimbulkan gesekan-kesekan di masyarakat. Mini market yang jumlahnya mungkin ratusan ribu itu, dimiliki oleh para pemilik modal besar. Tentu bukan masalah jika harus bertarung melawan pedagang kecil.

Di negeri ini, yang merasa kecil harus mengalah. Ini pula yang dilakukan oleh para pedagang kecil terutama para pedagang kaki lima. Mereka banting stir. Berkelompok dengan mendatangi para pembelinya dengan menggelar dagangan secara berkala seminggu sekali di tempat berbeda. Disebut Pasar Malam karena memang mereka selalu menggelar dagangannya mulai waktu sore hingga malam hari. Tepatnya mulai dari jam 16:30 hingga jam 21:00.

Keberadaan pasar malam ini cukup membantu masyarakat yang berpenghasilan seperti buruh pabrik. Saya menyebutnya pasar kelas buruh. Sebab saya tahu, kebutuhan pokok yang di survei untuk menentukan besaran UMK oleh anggota Dewan Pengupahan, di antaranya  ada tersedia di pasar malam ini. Mulai pakaian, makanan, sayur mayur, lauk pauk, hingga hiburan untuk anak-anak. Pendeknya, sembilan bahan pokok ada di pasar malam ini.***
             

Rabu, 03 September 2014

Surat Terbuka Buat Guru SDN IV Cikande

Oleh: Abu Gybran

Rambut Anak Saya Digunting acak.....???

Bapak dan Ibu guru, ini soal rambut anak saya, Qadhafi 'Gybran' Gibraltar yang sekarang duduk di kelas VI. Kemarin sore, 02 September 2014, dia memperlihatkan rambutnya yang rusak kepada saya, bapaknya. Dia menerangkan bahwa rambutnya digunting acak oleh gurunya. Alasannya karena rambutnya sudah panjang. Padahal menurut saya, rambut Gybran belum panjang seberapa. Masih pantas untuk ukuran anak SD.

Maaf sebelumnya, saya sebagai orangtua murid tidak bermaksud untuk ikut campur dalam aturan disiplin sekolah pada muridnya. Bukankah ada cara lain yang lebih baik yang bisa diterapkan pada murid laki-laki yang dinilai berambut panjang agar mereka memotong rambutnya. Menurut saya, kepantasan rapi dan tidaknya rambut panjang pada murid laki-laki itu adalah relatif. Bisa disebut gondrong atau panjang tentu ada batasannya. Apakah mereka tahu batasan rambut panjang itu seberapa? Sebab bukan hanya sekali anak saya mengalami hal serupa, sering. Padahal anak saya belum sampai dua bulan memotong rambutnya di kios Pangkas rambut.

Bapak dan Ibu guru, barangkali cara pandang kita berbeda soal disiplin yang berkaitan dengan kerapian rambut pada anak laki-laki usia SD. Saya juga seorang guru di Madrasah Ta'limul Qur'an di Cikande. Bagi saya, jika rambut anak laki-laki panjang tapi masih dalam kewajaran dan rapi, juga yang terpenting tidak mengganggu proses mereka belajar, tentu hal ini jangan dijadikan masalah. Tapi kalau sudah mengganggu proses mereka belajar, rambut menghalangi pandangan mata misalnya; wajar dan sudah menjadi kewajiban guru untuk menegur dan memberikan perintah kepada murid untuk memotong rambutnya. Tentu dengan cara-cara yang mendidik yang tidak menimbulkan trauma ketakutan bagi murid. Menggunting dengan acak rambut murid di kelas di hadapan teman-temannya, bukan cara yang baik. Hal ini akan menimbulkan dampak psikologi yang kurang baik pula pada anak. Korban akan merasa dilecehkan, direndahkan karena ditertawakan oleh teman-temannya yang lain. Kalau sudah begini maka konsentrasi belajar pun akan buyar. Maka yang sangat dirugikan adalah murid yang menjadi korban dan tentu juga orangtuanya.

Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih atas bimbingan belajar Bapak dan Ibu guru terhadap anak saya, Qadhafi 'Gybran' Gibraltar. Saya memahami bahwa tugas seorang guru itu tidak ringan, tapi ini merupakan tugas mulia yang harus diemban. "Pahlawan tanpa jasa," salam hormat dan maaf saya untuk Bapak dan Ibu guru. Semoga selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa. Amin ***


    

Senin, 04 Agustus 2014

Geliat Tangerang Pasca Lebaran 2014

Oleh: Abu Gybran

Tangerang; saya menyebutnya sebagai Kota Seribu Pabrik. Dimana hampir tiap sudutnya berdiri berbagai macam pabrik atau industri baik industri padat modal atau pun padat karya. Satu pekan lebih Tangerang mengalami masa tenang, lengang dan sepi karena ditinggal penghuninya libur mudik lebaran. Hampir 6 juta penduduk yang tersebar di 3 wilayah, kabupaten dan kota Tangerang. Dari jumlah penduduk tersebut tidak termasuk para pendatang yang tidak ber-KTP Tangerang yang diperkirakan berjumlah 1,5 juta penduduk.

Geliat Tangerang pasca lebaran 2014 kembali terasa menyentak. Mesin-mesin industri kembali bergemuruh. Kesibukkan dan kemacetan di jalan raya menjadi pemandangan yang tak terhindarkan. Diprediksi tahun ini  bakal kedatangan kaum pendatang 24.000 orang untuk mengadu nasib di Tangerang. Nah, itu artinya jumlah buruh pabrik di Tangerang akan bertambah. Saya yakin persoalan perburuhan tahun ini pun akan kembali menguji para aktivis buruh untuk kembali bertarung melawan dan menyelesaikan persoalan-persoalan perburuhan yang baru.

Kebijakan Pemerintahan Baru
KPU telah memutuskan bahwa capres dan cawapres Jokowi-JK adalah sebagai pemenang dalam pemilu yang telah diadakan pada 9 Juli 2014. Kabinet yang bakal dibentuk oleh presiden dan wakil presiden terpilih Jokowi-JK 2014 hingga 2019, tentu akan mempengaruhi kebijakan-kebijakan perburuhan yang telah ada dengan kebijakan barunya. Syukur-syukur jika kebijakan pemerintahan baru itu pro buruh, tapi jika tidak; maka para buruh harus menyiapkan energi baru untuk melawan segala bentuk ketidak-adilan.

Senin, 28 Juli 2014

Lebaran 1435 H

Oleh: Abu Gybran

Saya Akan Terus Menulis

Empat tahun Blog Saya ini sudah 'gentayangan' di dunia maya. Banyak hal yang saya tulis lewat puisi, cerpen, cerita bersambung dan artikel lainnya terutama soal agama dan ketenagakerjaan. Setidaknya sudah ada 27.200 pengunjung yang mampir ke Blog yang saya beri nama Abu Gybran ini. Saya senang bisa berbagi. Oleh karenanya saya akan terus menulis, mencurahkan apa yang terjadi disekeliling dan apa saja yang saya rasakan. Mulai dari kegaduhan politik, ekonomi dan kegaduhan hati saya. 

Pada lebaran idul fitri 1435 H, saya menghaturkan permintaan maaf pada seluruh pembaca. Saya menyadari, tentu saja ada kesalahan atau kekhilafan yang saya perbuat dalam tulisan-tulisan saya. Dengan segala kerendahan hati saya mengucapkan; "Mohon maaf lahir dan bathin." Semoga di hari lebaran ini dapat menyatukan hati-hati kita. Penuh kasih penuh cinta dalam kedamain dan persamaan.

Jumat, 04 Juli 2014

Menyoal Sembako di Pasar Gembong

Oleh: Abu Gybran

Pasar tradisional Gembong di Jalan Raya Serang Km. 33, Balaraja, Tangerang selalu menjadi sorotan saya pada setiap tahunnya terutama pada bulan puasa. Bukan hanya aktifitas pasarnya yang ramai jika menjelang lebaran, tapi tak kalah hebohnya adalah kemacetan karena tidak sedikit para pedagang menggunakan satu jalur jalan raya untuk berjualan. 

Setelah sehari puasa, saya berkesempatan belanja kepasar ini. Kesan pertama di dalam pasar adalah pengap dan becek terutama di lapak-lapak pedagang ikan basah dan daging. Yang banyak saya lakukan adalah bertanya pada para pedagang ketimbang belanja. Sekadar ingin tahu harga pasar yang terkait dengan harga sembako pada bulan puasa dan menjelang lebaran nanti.

Seperti harga daging sapi, sebelum bulan puasa harganya Rp. 88.000/kg naik menjadi Rp. 90.000/kg di bulan puasa. Artinya menjelang 2 hari lebaran harga daging bisa ditebak pada kisaran Rp. 110.000/kg sampai dengan Rp.120.000/kg.

Add caption
Lain halnya dengan harga daging ayam yang juga mengalami kenaikan, sebelum puasa harganya hanya Rp. 24.000/kg. Menjelang sehari puasa kata para pedagang harga ayam potong sudah mengalami kenaikan hingga Rp. 28.000/kg.

Harga kebutuhan paling pokok adalah beras. Barangkali hanya harga beras yang relatif stabil pada bulan puasa ini. Harga beras premium seperti beras Cianjur Kepala, Cianjur Slyp, Sentra dan Saigon berkisar Rp. 12.000/kg. Sedang untuk harga beras medium jenis IR-64 I, RP. 8.800/kg sedangkan beras jenis IR-64 II seharga Rp. 7.900/kg.

Pendeknya, hasil buruan saya mengenai harga sembako di Pasar Gembong ini rata-rata naik pada bulan puasa dan harga-harga sembako tersebut dapat diperkirakan

akan melejit satu minggu menjelang lebaran. Sudah menjadi hukum pasar sepertinya, suka atau tidak suka masyarakat kecil tidak punya pilihan lain. Sebisa mungkin belanja kebutuhan pokok untuk merayakan lebaran. Walaupun terpaksa harus cari pinjaman ke renternir yang berkedok Bank keliling.

Kamis, 01 Mei 2014

Presiden Sekalipun Butuh Peran Ketua RT

Oleh: Abu Gybran

Tidak banyak orang mau menjabat Ketua RT (Rukun Tetangga), alasan yang dikemukakannya pun beragam. Mulai dari bahwa menjadi Ketua RT itu hanya dapat capek saja, jabatan yang tidak menaikan prestise seseorang, pusing sebab tetangga harus dijamin kerukunannya dan seabrek-abrek alasan lainnya. Artinya sekian banyak jabatan di pemerintahan hanya Ketua RT yang nyaris tidak diminati.

Bagi saya menjadi Ketua RT merupakan tantangan hidup yang tidak ringan. Disamping tempat bagaimana  menjadi dewasa ketika dihadapkan pada persoalan tetangga yang menjadi tanggung jawab seorang RT. Menjaga kerukunan dan kenyamanan antar tetangga merupakan tugas utama bagi seorang RT. Bukankah ini tugas yang luar biasa? Walau sejatinya Ketua RT atau RW (Rukun Warga) adalah pembantu atau kepanjangan tangan Kepala Desa. 

Hal ini tertuang dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 5 Tahun 2007 Bab. IV Pasal - 14 bahwa "RT/RW sebagaimana dimaksud pada Pasal 7 huruf (4) mempunyai tugas membantu pemerintah desa atau lurah dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan."

Dalam pandangan saya bahwa lembaga ke-RT-an merupakan 'Kawah Candradimuka' atau tempat penggodokan bagi siapa saja yang ingin menjadi pemimpin lainnya, pemimpin yang dicintai oleh rakyatnya.

Hanya ada di Indonesia
Saya bangga menjadi Ketua RT sebab hingga kini saya belum pernah mendengar di dunia ada negara lain yang memiliki tatanan pengelompokan masyarakat yang begitu detail hingga sampai tingkat RT. Takkan bisa kita bayangkan bagaimana jadinya tanpa peran serang RT.

Ketua RT adalah ujung tombak sebuah pemerintahan yang langsung bersinggungan dengan masyarakatnya. Betapa tidak, setiap seseorang berurusan dengan negara dan kependudukan, pak RT selalu hadir memberikan solusinya. Misalnya dalam sistem perbankan, pembuatan rekening baru selalu dan pasti bahkan menjadi keharusan mencantumkan alamat lengkap hingga RT/RW. Belum lagi pembuatan Surat Pindah, Surat Keterangan Miskin, Surat Pengantar dan surat-surat resmi lainnya yang harus ditandatangani pak RT. Tanpa peran Ketua RT jangan harap seseorang bahkan presiden sekalipun bisa mempunyai KTP, SIM, dan surat-surat penting lainnya tanpa tandatangan Ketua RT pada Surat Pengantar pertamanya.

Peran ketua RT itu penting adanya. ***

Selasa, 11 Maret 2014

Susah Senang di Kampung Sendiri


Oleh: Abu Gybran

Setiap kita punya kebebasan untuk menentukan pilihan tempat tinggal dan tempat mencari nafkah. Namun dalam pandangan saya tentu lebih nyaman jika tempat tinggal dan tempat kerja letaknya tidak berjauhan atau bisa ditempuh dengan waktu singkat. Barangkali pandangan saya ini sangat bertolak belakang dengan para pengembara yang dengan berbagai alasan terpaksa harus meninggalkan kampung halaman. Sekali lagi setiap kita punya pilihan hidup.

Seperti pepatah; hujan emas di negeri orang masih lebih baik hujan batu di negeri sendiri. Kalau pengertiannya dipersempit, negeri menjadi daerah atau kampung, tentu lebih baik tinggal di kampung sendiri ketimbang tinggal di kampung orang dengan meninggalkan orang-orang yang di cintai dengan waktu lama. Jika alasannya untuk mencari menghidupan yang lebih baik yaitu pekerjaan, hal inipun tidak sepenuhnya dapat dibenarkan. Sebab lapangan pekerjaan sejatinya bisa diciptakan, bergantung sejauhmana kita berusaha untuk mendapatkannya.

Terjadinya lonjakan penduduk pada daerah-daerah industri atau perkotaan, disebabkan cara berpikir kita yang tidak mau rumit. Kita malas menggarap potensi yang sudah ada di daerah sendiri. Kita lebih suka memburu pekerjaan ke daerah lain yang dianggap mudah mendapat pekerjaan dengan iming-iming gaji yang lebih tinggi. Padahal kita telah meninggalkan keluarga yang justru tak ternilai oleh apapun. Kita lupa, bahwa keluarga tidak hanya butuh materi tapi juga butuh kasih dan sayang terutama anak-anak.

Saya ingin mengakhiri tulisan pendek ini dengan istilah; makan gak makan yang penting kumpul. Bagi saya keluarga adalah segala-galanya. Susah senang enakan tinggal di kampung sendiri. Asal mau terus berusaha, rejeki itu selalu ada tanpa harus mengembara jauh.***

Senin, 20 Januari 2014

Bermain


Oleh: Abu Gybran

Masa kecil itu adalah masa bermain. Dan setiap kita pasti pernah melewati masa keci; Bahagia atau tidak itu bergantung cara pandang kita. Sebab yang merasakan adalah kita sendiri. Ungkapan; "masa kecil kurang bahagia," seringkali diperuntukkan pada mereka yang sebenarnya dewasa tapi melakukan hal-hal yang sering dilakukan anak-anak.

Tanpa kita sadari kita pun acap kali melakukan apa yang sering dilakukan oleh anak-anak. Cara berpikir kita yang tidak mau ribet ketika berhadapan dengan masalah hidup yang dihadapi. 

Berpikir tidak untuk hari esok atau esok bagaimana nanti, ini cara berpikir anak-anak. Dan berapa banyak orang-orang yang mengatakan telah dewasa tapi tak tahu apa yang bakal dilakukan untuk dirinya esok. Hidup tanpa rencana, tanpa mimpi dan keinginan untuk berubah, apa indahnya?

Masa kanak-kanak adalah masa-masa bahagia. Dan itu hanya ada dimasa kanak-kanak, masa-masanya bermain. ***

Kamis, 16 Januari 2014

Ladang Baruku; Gunung Mas Jaya

Oleh: Abu Gybran

Setelah aku dipecat dari PT. Pearland pada tanggal 18 Desember 2013 yang lalu, aku merasa seperti jatuh dari ketinggian dan tak berdaya. Betapa tidak, setelah bekerja selama 26 tahun dengan tiba-tiba aku dipecat tanpa alasan yang jelas. Pimpinan hanya memberi tahu, bahwa aku kerja sudah terlalu lama............???

Untungnya aku semaput hanya sesaat; tidak harus menunggu lama, aku diterima kerja di Gunung Mas Jaya, Tangerang, pada tanggal 2 Januari 2014. Aku merasa suasana baru ini seperti memanjakanku. Buka hanya aku dipercaya untuk menduduki HRD & GA, tapi suasana kerja yang penuh kekeluargaan benar-benar aku rasakan dan bukan omong kosong. Aku seperti bukan pekerja baru.

Banyak mimpi dan harapan di ladang baruku ini. Aku akan berbuat setidaknya mampu memberikan yang terbaik buat perusahaan ini seperti yang telah aku lakukan pada ladang lamaku. Bukan lebay karena aku pernah melakukannya walaupun pada akhirnya aku harus menghadapi sesuatu yang tak pernah terpikirkan. Secara profesional aku menerimanya walau menyakitkan. Mengeluh.....? Tidak.....! Untuk apa mengeluh yang hanya menghabiskan energi.  Aku akan terus berlari dan berlari. Selama hujan masih berupa air, aku yakin didepan banyak kebaikkan sedang menungguku.***

Senin, 11 November 2013

Syamsudin: "Saya Bangga Menjadi Penjual Sayuran"

Oleh: Abu Gybran

Syamsudin (43), mantan buruh pabrik PT. Colorindo, Cikande, Serang, kini menjadi penjual sayuran. Keahlian berdagangnya telah dirintis jauh hari sebelum dia di PHK sebagai buruh pabrik. Di rumahnya dia membuka kios sederhana untuk berjualan kebutuhan pokok. Istrinya yang menunggu warung. Menurutnya, dia memang sengaja membuat warung sebagai persiapan jika suatu waktu dia di PHK. Dan benar adanya, sebab pada bulan Maret 2013, setelah sekian lama bekerja di perusahaan tersebut dia di PHK. Perusahaan itu mem-PHK seluruh buruhnya.

Uang pesangon dipergunakan untuk memperbesar usaha warungnya. Dan dia pun menyisihkan sedikit dari uang pesangon itu untuk modal berjualan sayuran keliling. 

Saat ditemui di pasar malam Taman Cikande, sambil melayani pembeli yang rata-rata adalah ibu-ibu rumah tangga, dia banyak bercerita kepada saya. Ungkapnya, saat awal berjualan keliling di pasar-pasar malam yang kebanyakan orang menyebutnya pasar kaget, dia merasa sedikit ragu. Ya, karena pekerjaan ini adalah pertama dan dia belum banyak mengerti soal berjualan sayuran.

"Tidak malu kalau ketemu dengan kawan-kawan buruh?" pancing saya. Dia tidak langsung menjawab. Dia malah ketawa walau akhirnya dia mengatakan bahwa rasa malu itu tidak ada. Bahkan, katanya, dia bangga menjadi tukang sayuran. Menurutnya keuntungan dari berjualan sayuran dalam sekali gelaran saja, itu tidak kurang dari Rp. 200,000. 

"Dibanding sewaktu jadi buruh pabrik, berapa sih yang kita dapat dalam sehari?" katanya sambil tersenyum. "Tahulah kita seberapa besar upah buruh, kalau mau upah besar, ya, harus demo dulu," sambungnya. "Maaf, saya tidak sedang merendahkan upah buruh. Tapi faktanya memang demikian, buruh masih diupah murah," ungkapnya. Menurutnya, kalau saat ini dia disuruh memilih untuk kembali menjadi buruh atau berdagang sayuran, maka dia akan memilih menjadi penjual sayuran keliling.

"Setelah saya jadi penjual sayuran, siapa yang mau mem-PHK saya," lagi-lagi dia tertawa. Nampak jelas kumisnya yang tebal itu bergerak-gerak.

Mantan aktivis buruh ini, menyampaikan pandangannya untuk saya tulis dalam catatan ini. Bahwa menjadi buruh pabrik tidak boleh terlena. Sebab sewaktu-waktu pasti mengalami PHK atau berhenti kerja menjadi buruh pabrik. Harus mempersiapkan keahlian lain supaya tidak terjadi kebingungan setelah berhenti menjadi buruh. Sebab bukan perkara mudah untuk kerja kembali menjadi buruh karena faktor usia yang tidak muda lagi. Sementara keperluan hidup tentu bertambah karena ada keluarga yang menjadi tanggungan. Sebesar apa pun uang pesangon kalau tidak dikelola dengan baik, maka itu akan menguap dalam waktu dekat.

Senja kian merona yang artinya malam akan segera tiba. Kalau tidak terhalang oleh waktu maghrib, rasanya saya ingin terus menggali pengalamannya. Saya pulang sambil memikirkan langkah apa yang bisa saya persiapkan jika sewaktu-waktu saya berhenti jadi buruh pabrik atau di PHK. Apakah saya harus mengikuti langkah kawan saya, syamsudin menjadi penjual sayuran? 

Ah, saya tidak boleh terlena menjadi buruh pabrik. Saya harus berbenah seperti kawan Syamsudin lakukan dijauh hari jika tidak ingin menjadi pengangguran.***

Kamis, 31 Oktober 2013

Senyum Getir Mantan Buruh

Oleh: Abu Gybran

Balaraja, 31 Oktober 2013
Lelaki paruh baya itu sedang menyeruput kopi panasnya di warung kopi pinggir Jalan Raya Serang yang tak jauh dari rumahnya. Dia dikejutkan oleh deru mesin ratusan sepeda motor yang menguasi jalan. Riuh klakson motor yang memang sengaja dibunyikan terus-menerus oleh pengendaranya. Lelaki paruh baya itu melongok keluar warung, dia tidak terkejut sama sekali. Dia langsung tahu, bahwa itu adalah demo buruh. Entah apa yang ada dalam pikirannya, dia tersenyum melihat aksi buruh itu. Ya, tersenyum. Senyuman getir.

Sebut saja lelaki paruh baya itu, Bondan. Menyaksikan aksi buruh itu, dia teringat masa tiga tahun lalu. Dia pun pernah melakukan aksi demo buruh, bahkan dia termasuk buruh paling 'keras' ketika menyuarakan tuntutan buruh, terutama soal upah. Ya, dia adalah mantan buruh. Dia di PHK, sebab pabrik tempatnya bekerja sudah tutup alias gulung tikar.

Setelah di PHK itu, hingga kini Bondan belum dapat pekerjaan baru. Lamaran kerjanya selalu ditolak oleh perusahaan yang dia tuju. Terbentur oleh usia yang tidak memungkinkan lagi untuk bekerja di pabrik. Dia tidak menyalahkan Serikat Buruh yang dulu dia berada didalamnya. Dia tahu konsekwensi dari seorang aktivis buruh. Hanya saja saat itu dia ingin bertanya kepada para buruh yang sedang melintas didepannya; apakah mereka pernah berpikir terhadap kawannya yang sudah ter-PHK seperti dirinya?

Bondan seperti kehilangan segala-galanya, termasuk kawan-kawan buruh. Dia merasa sendirian dan memang sudah ditinggalkan oleh kawan-kawan buruh. Dimana solidaritas yang sering diusung oleh buruh itu? 

Penyesalan memang selalu datang belakangan. Waktu masih menjadi buruh pabrik, tidak sedikit pun terlintas dalam pikiran Bondan untuk memikirkan pekerjaan lain setelah berhenti jadi buruh pabrik. Dia baru menyadari betapa sulitnya mencari pekerjaan lain setelah berhenti menjadi buruh pabrik. Dia terlena menjadi buruh pabrik sehingga lupa untuk menyiapkan keahlian yang lain setelah menjadi mantan buruh. Pikirnya, andai saja dia punya keahlian lain, mungkin dia tidak akan mengalami nasib seperti yang dialaminya saat ini.

Dia masih memandangi ratusan buruh yang berkendara sepeda motor itu yang melintas dihadapannya. Yel yel yang diteriakkan buruh menyatu dengan deru mesin dan klakson motor. Jalan menjadi macet. Lagi-lagi Bondan tersenyum, entah apa artinya. Bondan kembali masuk ke warung kopi untuk menghabiskan kopinya yang masih tersisa. Kopinya sudah dingin seperti senyumnya yang dingin. ***

Minggu, 25 Agustus 2013

Ngariung Makan Bersama Buruh PT. Pearland Balaraja

Oleh: Abu Gybran

Ketika saya mengambil gambar ini, sebenarnya saya tidak sampai hati untuk mengabadikannya. Tapi inilah barangkali saat-saat terakhir dimana saya harus menyaksikan mereka dengan segala kebesaran hati. 

Ngariung makan bersama buruh PT. Pearland merupakan acara spontanitas mereka lakukan disaat istirahat makan siang. Walau perpisahaan itu sudah ada didepan mata, mereka masih sempat bercanda dengan berseloroh bahwa ini adalah makan terakhir bersama.

Dengan diiringi alunan musik dari daerah sunda yang mereka putar dari telepon seluler, acara ngariung itu terasa hidmat. Sungguh mereka benar-benar berbesar hati seakan tidak ada masalah dengan yang bakal terjadi. Saya menangkap dari raut wajah mereka, bahwa mereka berusaha untuk tetap tegar. Dan mereka berusaha untuk menyembunyikan kata pisah. Ya, mereka akan tetap bersama walau tak bersama. Kenangan yang tak mungkin dilupakan.***

Surat Terbuka Untuk Buruh PT. Pearland Di Balaraja

Oleh: Abu Gybran

Surat ini saya sampaikan untuk kawan-kawan buruh PT. Pearland di Balaraja, Tangerang. Kawan, kita telah mendapatkan hak-hak kita dari perusahaan, namun kenyataan pahit tetap saja harus kita terima. Sesuatu yang sama sekali tidak kita kehendaki dan kita telah berusaha semampu kita untuk menghindarinya. Dan hal serupa pun telah dilakukan oleh perusahaan untuk tetap berdiri, namun tetap saja kita harus menghadapi ini bersama-sama.  Di Balaraja, langkah perusahaan harus terhenti.............

Saya tidak ingin mengatakan bahwa surat ini sebagai surat perpisahan. Kita akan tetap bersama-sama walau tidak lagi pada kendaraan yang sama nanti. Hati kita akan selalu terpaut. Puluhan tahun kita bersama. Rasa-rasanya tidak mungkin persahabatan yang terbingkai kekeluargaan antara kita sebagai buruh dan pengurus perusahaan pudar begitu saja dalam benak hati kita. Saya percaya persahabatan kita akan selalu ada dan tidak akan terputus hingga ajal menjemput.

Kawan, sekalipun perusahaan dimana kita bersama meraup rizki didalamnya sudah tidak ada lagi, bukan berarti rizki kita ikut terputus. Tidak kawan. Puluhan tahun kita berkarya di perusahaan akan menjadi pengalaman yang sangat mahal dan berharga buat kita. Diluar sana kita bisa mengembangkan pengalaman kita untuk kehidupan selanjutnya. Asal kita mau berusaha dan memang harus tetap berusaha. 

Tidak ada gunanya memendam kekecewaan, sebab kita sama-sama tahu dan kita bersama telah memberikan yang terbaik untuk perusahaan. Kita menyadari segala bentuk apapun di dunia ini ada batas dan akhirnya. Dan akhir yang baik itu bergantung bagaimana kita menyikapinya. Ikhlas bahwa segalanya akan berakhir, percayalah kawan, kita tidak akan mendapati kekecewaan itu.

Kata ikhlas adalah kunci untuk saling memahami dan memaafkan. Kita sebagai buruh tidak selalu benar, bisa jadi banyak kekurangannya. Begitu pula pengurus perusahaan sebagai mitra kerja. Namun tidak ada salahnya kita mengucapkan kata terima kasih pada pemilik perusahaan yang telah memberikan peluang kerja pada kita. Kata yang paling indah sebagai ungkapan rasa syukur kita selama puluhan tahun dalam kebersamaan baik suka maupun duka. 

Kawan, berat memang dan tidak mudah apa yang bakal kita hadapi dikemudian hari. Kita dihadapkan pada situasi dan kondisi yang sangat jauh berbeda dengan masa lima atau sepuluh tahun kebelakang. Diantara kita dan memang rata-rata sudah berkeluarga. Bersama kita sudah ada suami, isteri dan anak-anak kita yang menjadi tanggung jawab kita. Apapun yang terjadi, kita harus tetap menjaga agar senyum suami, isteri dan anak-anak kita tetap mengembang. Tentu saja kita harus tetap melanjutkan sisa perjalanan walau jalan yang kita tempuh sudah berbeda. Kita terpaksa berpisah diakhir hampir penghujung jalan. Kita harus menyelesaikan perjalanan yang tersisa sendiri-sendiri.

Sekali lagi saya ingin menyampaikan; surat ini saya tulis bukan sebagai tanda perpisahan. Namun dengan berat hati saya ingin menyampaikan kata pisah pada kawan-kawan jika memang dikemudian hari kita benar-benar berpisah. Kata hati yang teramat dalam. "Selamat melanjutkan langkah untuk perjalanan yang masih tersisa. Langkah yang dibarengi rasa optimis dan keyakinan yang mantap, bahwa Tuhan tidak akan membiarkan hidup kita menjadi susah. Tuhan cinta pada hamba yang tetap berusaha walau didera ujian berat sekalipun. Selamat jalan kawan-kawan tercinta.........!!!"

Sabtu, 17 Agustus 2013

Hidup Merdeka

Oleh: Abu Gybran

Hari ini 17 Agustus 2013, bertepatan dengan hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Bendera Merah-Putih berkibar hampir disemua halaman rumah, kantor pemerintah dan swasta serta menghiasi sepanjang jalan. Namun demikian seringkali kita masih mendengar pertanyaan yang bernada pesimistis;"Benarkah negeri ini sudah merdeka?"

Menurut saya, negeri ini sudah merdeka 68 tahun yang silam, 17 Agustus 1945 dan ini adalah fakta yang tak bisa dipungkiri. Barangkali jika pertanyaannya adalah; "Apakah rakyatnya sudah merdeka?" Jawabanya mungkin bisa ya dan tidak. Sebab pada sisi yang lain kita masih menjumpai ketimpangan antara yang kaya dan miskin. Pemerataan dibidang ekonomi memang masih dirasakan kurang. Bahkan kebebasan beribadahpun seringkali terjadi diskriminasi bagi pemeluk agama minoritas. Belum lagi penegakkan hukum yang belum menyentuh keadilan secara merata.

Lantas Kemerdekaan Itu Milik Siapa?
Jawabannya tentu milik semua orang. Banyak cara orang mengisi kemerdekaan hidup ini. Berbeda jauh dengan orang-orang terdahulu untuk merebut kemerdekaan dari bangsa penjajah. Mereka harus angkat senjata bahkan menumpahkan darah untuk sebuah cita-cita yaitu merdeka. 

Merdeka kini adalah mengisi kemerdekaan itu sendiri. Menurut pandangan saya merdeka itu adalah bebas berkarya dan beribadah. Kepahlawanan hanya bisa diraih oleh orang-orang yang menginginkan adanya perubahan bagi diri, keluarga serta bangsanya. Setidaknya jadilah pahlawan untuk diri sendiri. Merdeka.....!!!   

Kamis, 11 Juli 2013

Ngabuburit Ala ABG Kini

Oleh: Abu Gybran

Ngabuburit, istilah ini hanya ada dalam bulan Ramadhan. Ngabuburit berasal dari Bahasa Sunda yang artinya melakukan suatu kegiatan sambil menunggu waktu maghrib untuk berbuka puasa. Banyak kegiatan positif yang bisa dilakukan dengan santai sehingga dapat melupakan sesaat keluh kesah atau hal-hal yang dapat  menganggu serta mengotori kesucian ibadah puasa..

Bertadarus Al-Qur'an selepas shalat asyar, baca buku-buku agama atau apapun itu yang penting adalah bernilai positif (berpahala). 

Ngabuburit Ala ABG kini
Ngabuburit kini dengan ngabuburit tempo dulu telah mengalami perubahan sesuai perkembangan jaman. Seingat saya, waktu saya masih seumuran ABG, waktu ngabuburit dihabiskan dilanggar atau mushola bertadarus membaca Al-Qur'an. Ada yang menghabiskan waktu ngabuburitnya di pematang sawah untuk menggebah burung-burung yang memakan padi jika Ramadhan bertepatan dengan musim panen. 

Lain halnya dengan ngabuburit masa kini; teramat jarang remaja muslim yang menghabiskan waktu ngabuburitnya dengan membaca Al-Qur'an di mushola atau masjid. Waktunya habis nunggu maghrib sambil nonton TV. Masih syukur kalau yang ditontonnya acara yang berkaitan dengan ibadah Ramadhan, tapi biasanya acara semacam ini tidak disukai mereka.

Yang lebih gila lagi, saya seringkali melihat mereka berkumpul di tempat-tempat perbelanjaan; alasannya buka bersama. Bersama pacar tentu saja. Ini ngabuburit yang dilakukan oleh remaja yang berduit (duit dari ortu). Ada juga yang berkeliling bermotor ria berboncengan ke tempat-tempat yang mereka anggap nyaman untuk menunggu berbuka puasa. Astaghfirollah, cara mereka berboncengan itu seperti suami-istri.

Inilah sedikit potret ngabuburit anak ABG kini. Ngabuburit yang justru menjauhkan mereka dari ibadah puasa yang sebenarnya. Allah tidak berhajat kepada orang yang berpuasa tapi tidak mampu meninggalkan perbuatab-perbuatan yang semestinya dijauhi. Dalam hal ini tentunya peran orang tua lebih dominan untuk dapat mengarahkan mereka memahami agama yang benar. Lingkunganpun sangat berpengaruh membentuk karakter mereka dalam berprilaku. Artinya; ini adalah masalah kita sebagai umat Islam untuk tidak meninggalkan 'amar ma'ruf dan nahi munkar.***

*Tulisan ini dibuat sambil ngabuburit......hehehehe....  

Selasa, 07 Mei 2013

Belum Ada Judul


Oleh : Abu Gybran

Saya sungguh tidak tahu harus memulai dengan kalimat apa untuk menceritakan apa yang hendak disampaikan. Sungguh banyak ide, gagasan dan keinginan dalam isi fikiran saya. Tapi selalu saja gagal ketika saya berusaha menuangkannya dalam bentuk tulisan. 

Banyak faktor yang membuat saya gagal dalam merangkai kata-kata diantaranya adalah kegundahan saya ketika menyaksikan ketidak-adilan menimpa orang-orang yang semestinya mendapatkan perlindungan keselamatan, kebebasan, ekonomi, pendidikkan dan kesehatan dari pemerintah. Saya bukan sok menjadi pemerhati sosial, tapi inilah fakta yang saya saksikan. Betapa perlakuan hukum hanya berlaku tegas bagi mereka yang jelas tertindas. Sepeti pisau tumpul keatas dan runcing kebawah. Inilah wajah hukum kita saat ini.

Belum lama ini terbongkar kasus perbudakkan terhadap buruh pabrik wajan di Desa Lebak Wangi Kecamatan Sepatan Timur Kabupaten Tangerang, Banten. Hingga 6 bulan menurut pengakuan para buruh sebelum terbongkarnya kasus ini mereka mengalami penyekapan. Yang bikin naik darah, ternyata ada dua aparat keamanan yang ikut membeking usaha milik Yuki Irawan ini. Terlepas apakah mereka teman atau bukan dengan pengusaha wajan ini, tapi kedua aparat keamanan ini telah membiarkan perbuatan melawan hukum. Peran kedua aparat keamanan ini berulang-ulang disampaikan oleh para buruh pada awak media.

Ada juga kisah pilu seorang ibu yang sudah tua renta diperkarakan oleh anaknya sendiri lantara menebang pohon yang menghalangi jalan hingga ke persidangan. Ada orang yang mencuri 3 buah semangka langsung diperkarakan, disidang dan diputuskan hukumannya. Dalam hal ini saya sedang tidak membela bentuk-bentuk kesalahan, tapi kenapa tindakkan para pejabat negara terhadap kasus yang dialami orang-orang kecil ini begitu cepat? Sementara kasus para koruptor begitu lambat penanganannya. Hah......!!!

Ternyata benar kata seorang teman; di negeri ini banyak orang pintarnya tapi sedikit orang benarnya. Dengan berat hati saya terpaksa membenarkan opini ini.

Duh...! Saya sudah ngelantur kemana-mana. Jika diteruskan, tulisan ini mungkin akan melantur kemana-mana. Saya tidak ingin menyakiti siapapun. Saya menyadari kapasitas saya sebagai apa. Hanya sebatas rakyat yang jengah melihat praktek-praktek ketidak-adilan yang dipertontonkan oleh para pejabat negara.

Sekarang saya merasa kesulitan bagaimana caranya menutup tulisan ini dengan kalimat penutup yang pas. Bahkan anehnya, untuk memberi judul pun saya kebingungan hingga tulisan ini terpaksa saya akhiri....!!!  

Selasa, 16 April 2013

Melawan Rasa Takut

Oleh: Abu Gybran

Apa yang bisa dikerjakan oleh orang yang dirinya selalu dihantui oleh rasa takut? Tidak ada. Sekalipun ada pasti hasilnya akan mengecewakan. Sebab orang yang dihantui ketakutan seperti mengubur kedua kakinya sebelum melangkah. Diam bukan solusi agar terhindar dari rasa takut sebab diam dengan tidak melakukan apa pun sejatinya adalah gagal. Takut gagal; takut hidup miskin dan takut kehilangan pekerjaan adalah ketakutan yang paling banyak menghantui seseorang saat sekarang ini. 

Takut Harus Dilawan
Setiap kita pasti punya rasa takut, tapi takut yang berlebihan biasanya dipicu oleh ketidak-siapan diri dalam menghadapi persoalan. Ya, kuncinya adalah karena tidak siap. Contohnya begini; orang takut mati, padahal bukan kematiaannya yang ditakuti sebab kematian itu pasti. Ketidak-siapannyalah menghadapi kematian yang sebenarnya dia takuti. Takut mati karena belum siap, belum punya bekal kebaikan untuk kehidupan akhirat yang kekal. Jadi rasa takut itu hanya bisa dilawan dan dikalahkan oleh orang-orang yang penuh dengan kesiapan.

Salah Jalan
Dalam kehidupan ini kita sering menjumpai bagaimana seseorang menyiapkan segala kebutuhan hidupnya dengan kerja keras. Bahkan tidak sedikit yang menabrak norma-norma yang semestinya ditaati. Dunia memang selalu menyilaukan bagi siapa saja yang berpikir bahwa dunia adalah segalanya. Soal halal atau haram, itu urusan yang kesekian. Tidak tanggung-tanggung banyak orang yang pergi ke para normal atau dukun untuk mempersiapkan kehidupan kedepan agar tidak jatuh miskin.

Baru-baru ini saya dibuat terkejut ketika mendengar ada seorang ibu dan anaknya datang ke seorang dukun meminta agar anaknya yang hendak menghadapi Ujian Nasional di sekolahnya dapat lulus. Bahkan tidak sedikit pula orang-orang yang 'nyaleg' untuk tahun 2014 mendatangi paranormal tanpa canggung sedikitpun. Ketakutan yang diperlihatkan oleh orang-orang yang pergi dan meminta bantuan si dukun adalah keliru. Walaupun dengan alasan 'hanya berusaha dan ikhtiar'. Jalan yang keliru seperti ini banyak ditempuh oleh orang-orang untuk menutupi ketakutannya. Padahal belajar dan terus belajar menggali kebaikan-kebaikan dan mengamalkannya adalah persiapan yang sebenarnya untuk membunuh rasa takut.

Berpulang kepada kita; belajar atau tidak, siap atau tidak merupakan 'penghargaan' untuk diri kita sendiri. ***