Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Maret 2016

Petaka

















Oleh: Abu Gybran

Petaka itu tak diminta
Menerobos menghentikan sebuah pesta
keangkuhan jiwa
Terserak angan-angan tanpa makna
Ah, dulu ia sangat dipuja. Hingga lalai terbius kesenangan penggoda
Dan faktanya memang jiwa tergoda
Berhamburan waktu-waktu liar tak terjaga
Hanya menyisakan sedikit luang di ujung senja
Tak berdaya...!!!

(Tangerang,15 Maret 2016)

Sabtu, 05 Maret 2016

Senja Merana

Oleh: Abu Gybran












Memudar pudar
Semestinya merona bukan rana
Kemana perginya? Asa tenggelam ditelan keangkuhan
menyesakkan !!!
Ditikam waktu mengelak kemana?
Terkapar, separuh sudah hilang rasa
Senja.......ssnja......senja merana
Malam menjemput jiwa yang sudah merapuh

(Tangerang, 5 Maret 2016)  

Kamis, 20 Agustus 2015

TEMBANG KEMATIAN DISEPOTONG MALAM

Oleh: Abu Gybran

Lelaaaa lela lekung
Lela lelaaaaa lekung
Lela lekung lela lekung..........

Mencekam malam menghitam, menikam
Senyap, tanpa suara
Resah yang meresah gelisah, memenjarakan jiwa yang mulai gundah
Duh, keluh mengeluh; dimana letak sajadah yang pernah dihamparkan?
Kiranya kesombongan telah membutakan mata dan hati mengeras cadas
Saat kematian merobek baju zirah
Lelaki separuh abad dibenturkan dipenghujung malam
Bersusah payah menyeret-nyeret napas yang memberat
Sekarat
Ketakutan menampar-nampar wajah; pucat pasi tak berdarah
Sajadah.......dimana sajadah?!

Ha.....ha....ha.....
Gelak tawa iblis berpesta disepotong malam yang tersisa
Tidak menyisakan sedikitpun ruang
Ruang dimana jiwa dapat mengingat Tuhan
Dijejali kesenangan samar yang menipu
Kesombongan adalah berhala yang ditiupkan pada nafsu yang tak berujung
Kebebasan setan sejatinya adalah kurungan
Ya, jiwa terkurung di ruang sempit yang menghimpit
Lelaki setengah tua telah lama kehilangan kebebasan yang sebenarnya
Dan kemerdekaan yang sesungguhnya
Dirampas dan terampas hingga lupa
Dimana letak sajadah yang pernah dihamparkan saat jiwa menghamba pada keagungan Tuhan
Dia, dihampir sepanjang napasnya telah tersesat di rimba belantara dosa-dosa yang menghitam legam
Jiwa karam digelapnta kelam

Lelaaa lela lekung
Lela lelaaaa lekung
Lela lekung lela lekung.......

Disepotong malam yang tersisa
Sosok hitam berdiri garang di depan pintu
Menghadirkan masa kelam dengan segala kejumawaan
Dia, lelaki yang merasa bakal mati malam itu mencoba melawan
Meninju nafsunya; merangkak menggapai dimana sajadah pernah ia hamparkan
Tuhan......
Aku malu memanggil-Mu disaat napas sudah tersengal, dijegal batas waktu yang sudah digariskan
Kematian adalah kepastian yang meruntuhkan segala kesobongan
Dipenghujung malam biarkan, biarkan aku mengakhirinya dalam pertobatan
Perkenankan ya,.....rahman
Dekap, dekap, dekap aku dalam ampunan

Astaghfirolloh robal baroya
Astaghfirolloh minal khotoya

Tembang kematian lelaki separuh abad dipenghujung malam
Mengalun lirih dalam kepasrahan
Lantunan syair-syair sufi mengantarkan dan mempersembahkan sepotong iman yang masih tersisa pada ampunan Tuhan;
Ya robb,.....aku memang bukan ahli syurga. Tapi aku pun takkan kuat berada dalam neraka,
Maka terimalah tobatku dan ampunilah atas dosa-dosaku
Dia, lelaki dengan sepotong imannya itu
Menyungging senyum dalam tidur panjang
Bayang hitam yang berdiri garang di depan pintu itupun sudah tak tampak lagi
Hanya menyisakan wangi pada sajadah yang terhampar di sudut kamar
Senyap, tanpa suara

Lelaaaa lela lekung
Lela lelaaaaa lekung
Lela lekung lela lekung........

(Tangerang, 20 Agustus 2015)

Kamis, 19 Maret 2015

Perempuan di Pesisir Selatan

Oleh: Abu Gybran



Teluk Penyu saat senja merangkak
Kilau cahaya yang merona memantul pada debur ombak
Ada perempuan muda berdiri mematung tak bergerak
di tepi pesisir selatan
Gejolak batin terdampar pada getir kehidupan
Telah lama mati rasa padahal saat itu kaki menginjak pasir basah
Mengharap berkah
Pada bulan suro batin mendesah melangitkan seribu doa
Duh, gusti. Di mana harus kuletakan tumpukkan dosa?

Kerlip lampu perahu nelayan kembali dari melaut
Sekeranjang ikan dibawa pulang
Tatapan nelayan tua menggetarkan jiwa, menyapa
Perempuan muda masih berdiri dalam remang cahaya

Kembali,
sang surya kembali keperaduan
Jiwa menangkap isyarat alam dalam putaran
Terang dan gelap bergantian
Naik dan turun perjalanan
Hitam dan putih kehidupan

Melarung dosa di laut tanpa batas
Meyakini bahwa ampunan-Nya juga tak terbatas
Jiwa yang kering meranggas
Tumbuh tunas ketentraman yang pernah terpangkas
Syahwat yang mengganas menggilas
akal sehat yang menjauhkan jarak
Aku yang tercampak

Perempuan muda tak lagi berdiri sendiri
Sebab angin laut, pasir basah, debur ombak dan malam yang syahdu
Melebur dalam jiwanya, ketenangan telah didapatkan
Senyap dalam pelukan Tuhan.

(Tangerang, 19 Maret 2015)      


Senin, 02 Maret 2015

Kesahku

Oleh: Abu Gybran

Tuhan...........
Jiwa dan raga ini adalah milik-Mu
Aku hidup hingga kini itu karena kehendak dan kuasa-Mu. Aku tidak tahu batas hidup yang telah Kau berikan. Aku hanya tahu dan merasakan bahwa nafasku masih bersamaku.
Maafkan jika aku belum bisa menjawab pertanyaan jiwaku; apakah aku bahagia?  
Seperti halnya burung-burung yang terbang jauh dan kembali ke sarangnya dengan senang.
Juga seperti halnya bunga-bunga yang mekar indah dipandang
Rerumputan yang terhampar menghijau, gemercik air pancuran bambu di kaki bukit berbatu
dan lengkung senyum pelangi di saat senja. Mereka bahagia.

Ajari aku untuk bisa bahagia seperti mereka tanpa kesah ketika mata terbuka
dan tanpa ketakutan ketika mata terpejam.

Tuhan..........
Jiwa dan raga ini adalah milik-Mu
Aku telah memilih jalan hidup yang telah aku pilih. Berharap mendapatkan makna dari bahagia bagi jiwa yang meronta meminta. Jauh hingga kaki tak sanggup lagi melangkah karena letih
Bahkan aku tak tahu lagi harus mencari kemana. Aku telah menghabiskan separuh abad usiaku dalam pencarian
Padahal bahagia itu sederhana. Seperti halnya yang aku lihat pada burung-burung yang terbang, bunga-bunga yang mekar, rumput yang menghijau, air yang gemercik dan pelangi yang selalu tersenyum. Tapi dimana letak bahagia bagi jiwaku?

Ajari aku untuk bisa bersyukur seperti mereka tanpa kesah ketika mata terbuka
dan tanpa ketakutan ketika mata terpejam.

Tuhan........
Jiwa dan ragaku adalah milik-Mu
Aku telah memberikan persembahanku pada-Mu. Tunduk dengan segala keikhlasan bahwa tidak ada yang wajib disembah kecuali Allah. Dan aku hanya memohon pertolongan hanya kepada-Mu.
Hilangkan kesahku dan lenyapkan ketakutanku
Aku ingin bahagia dalam menghabiskan sisa-sisa nafasku
Kalau pun aku tak menemukannya di dunia,
tapi dengan berbekal persembahanku yang tak seberapa, aku berharap syurga pada akhirat-Mu.
Amin.

(Tangerang, 2 Maret 2015)


Sabtu, 28 Februari 2015

Seruni yang Melayu

Oleh: Abu Gybran


Seruni di pagi hari dalam kukungan sepi
di tanah basah menyendiri
Gemetar hati mata menangkap luka
Sebab ia merunduk layu

Seruni melayu di tanah basah
bergelayut embun tak membuatnya berseri
Gerimis tak mengobati luka menganga
Merintih dirajam sepi

Di mana lengkung senyum
atau nyanyian kecil tentang cinta?

Seruni yang dijauhi
padahal belum lama mereka mengagumi
Keindahan rupa yang mempesona
Kau begitu didamba

Seruni terperangkap goda si pemberi janji
diri jatuh diseret birahi
Dijejali sesal yang bertubi
Untuk apa lagi ditangisi?

(Tangerang, 28 Februari 2015)
  

Selasa, 13 Januari 2015

Jendela Tak Berpintu

Oleh: Abu Gybran

















Bukan salah hujan ketika menerobos masuk lewat jendela
Jendela tak berpintu yang lama kesepian
Angin pun bebas masuk mengacak-acak isi ruangan
Ruang pengap diam dalam kebisuan

Jendela tak berpintu dan ruang pengap diam dalam kebisuan
Masa lalu berserakan dibiarkan tergeletak
Menyatu dalam sepi
Ditikam masa lalu yang menyakitkan

Pada dinding kusam, namamu masih terbaca samar
Ada ribuan tertoreh cerita tentang kita
Bahkan di sudut ruang masih menyisakan wangi tubuhmu
Satu dari pakaian tidurmu masih tergantung di kastok yang sudah rapuh

Bukan salah hujan dan tidak pula salah angin
Ketika kita terlempar jauh oleh keangkuhan
Kita telah kehilangan kepakkan sayap-sayap cinta
Kita adalah jendela tak berpintu itu.

(Tangerang, 13 Januari 2015)  

Rabu, 07 Januari 2015

Tarian Hujan di Akhir Desember

Oleh: Abu Gybran

















Belum mereda, masih menari hujan bersama angin
saat senja di akhir Desember
Banyak resah berkeliaran dalam hati yang melemah
Sulit dibedakan apakah hanya sekadar ujian atau kesalahan dalam menentukan pilihan?
Keputus-asaan kerap datang menyapa; sudah tidak ada harapan
Sudah habis tergerus keruhnya air ke arah hilir
Dibalik hujan, kusampirkan sepotong doa
Tuhan, sisakan sedikit saja napasku untuk menyelesaikan pekerjaan tertunda
Melukis lengkung senyum mereka yang berlindung di bawah telapak tanganku
Duh...aku jumawa !
Betapa mereka terlunta.
Dalam catatan mendekati penghujung jalan aku tersadarkan.

Tarian hujan di akhir Desember
Melukai hati tanpa ampun. Menghujam tajam tusukan pisau masa lalu
dalam balutan nafsu yang menipu. Duh....aku telah tertipu !
Kiranya memang pantas disematkan pada diri atas segala kejumawaan
Kesombongan, keangkuhan dan hitamnya jiwa dalam lumuran dosa
Basahi dan hujani aku.
Melarung kesialan pada keruhnya air ke arah hilir

Ini adalah akhir laku kesombongan, semoga
Saat hujan terhenti tak ada lagi ringis karena menahan dalamnya luka
Berdamai dengan diri
Memaknai tiap lembaran-lembaran yang sarat dengan guratan masa lalu
Melalui jendela kayu yang merapuh
Menatap hujan yang didera gelisah, melepaskan segala beban
Melarungkan amarah dan kesombongan
Pada air hujan yang mengalir ke hilir
Menapak pada jalan bijak sebagai upaya terakhir
memuliakan diri yang telah luluhlantak
Menikmati sisa nafas yang masih tersisa
dalam tarian hujan di akhir desember..

(Tangerang, 7 Januari 2015)
    

Kamis, 25 Desember 2014

1/2 Gelas Kopi Pahit

Oleh: Abu Gybran

















Tinggal separuh, 1/2 gelas kopi pahit
tersisa tanpa tahu harus diminum atau tidak, atau dibiarkan saja
sampai dingin.
Kopi terakhir, esok entahlah.......

Pahit, bukan hanya kopi tanpa gula itu
Semuanya terasa pahit, mati rasa
Lumpuh setelah lepasnya baju zirah pelindung
Satu persatu hilang dalam genggaman entah kemana

1/2 gelas kopi pahit menyingkap tabir
betapa hancurnya jelang kesudahan dari sebuah perjalanan
Tanpa warna
Menghitam daun dan bunga tanpa embun bergelayut
padahal pagi begitu dingin

Menafsirkan tiap tarikan napas
selagi masih tersisa jatah hidup dan mata belum tertutup
Betapa semuanya telah meninggalkan jauh
Tak mungkin waktu mengulang
di hadapan hanya tersisa 1/2 gelas kopi pahit
pun masih bingung mau diapakan?
Membiarkannya dingin sendirian adalah kesia-siaan
Tapi, bersediakah kau menemaniku menghabiskan 1/2 gelas kopi pahit?
Ia adalah separuh dari napasku.


(Tangerang, 25 Desember 2014)

Senin, 15 Desember 2014

Catatan Tentang Kita

Oleh: Abu Gybran

















Sampai di mana kita bicara? Aku lupa mencatatnya
Bahwa tiap denyut nadi adalah sejarah, tiap kata adalah sejarah
dan tiap langkah adalah sejarah. Hitam dan putih adalah warna sejarah
Atas dan bawah adalah putaran hidup yang menyejarah
Kita adalah bagian dari sejarah

Kenapa harus sembunyi dari rasa salah? Pengkhianatan itu selalu ada
Suka atau tidak kita pernah berkhianat. Bahkan mengkhianati Tuhan
Menghujat Tuhan karena kebodohan kita, saat kita merasa tidak disatukan
dalam ikatan yang kita sebut jodoh.

Kejahiliyahan kita adalah menganggap Tuhan itu ada ketika kita berada di atas
dan Tuhan itu tidak ada saat kita berada di bawah

Sudahlah, mari kita berdamai
Aku tidak takut untuk mencatatkan perjalanan kita yang hanya separuh jalan itu
Bahwa tidak menyatunya kita adalah jalan Tuhan
Bukan berkhianat ketika kau memilih jalanmu sendiri
dan kau tinggalkan aku di jalan yang lain
Jalan yang pernah kita pilih untuk kita tapaki hingga batas akhirnya

Mengumpulkan kembali yang tercecer dalam satu catatan
Menyakitkan, tapi itulah sejarah
Catatan tentang kita.

(Tangerang, 15 Desember 2014)

Kamis, 20 November 2014

Wayang

Oleh: Abu Gybran




















Wayang, wayang, wayang dimainkan
Wayang, wayang, wayang dipentaskan
Wayang adalah bayang-bayang
Wayang adalah potret kehidupan yang dibatasi waktu tayang
Wayang berbeda dengan wayang-wayangan

Kita adalah wayang hidup berbeda dengan wayang-wayangan yang mati rasa
Rakyat adalah wayang
Pemimpin adalah dalang juga sejatinya adalah wayang
tunduk pada lakon yang telah ditentukan
Taqdir
Digerakkan dalang yang Maha Pengasih dan juga Maha Penyayang

Wayang, wayang, wayang dimainkan
Rakyat bergerak mengikuti irama ketukan dalang
dalam damai kesejahteraan
Pemimpin kaya dengan rasa, tidak menempatkan rakyat dalam kotak kayu kusam
seperti wayang-wayangan

Rakyat dan pemimpin adalah wayang orang
Dunia adalah panggung pentas kehidupan
Perannya yang berbeda
Yang tertindas karena lemah
Yang tertawa karena berkuasa
Berputar dan bertukar
Berhenti pada batas tayang, mati

Wayang, wayang, wayang tak lagi dimainkan
akhir pagelaran
Tutup lawang sigotaka

(Tangerang, 20 November 2014)


Rabu, 12 November 2014

Kopiku yang Hilang

Oleh: Pitaloka Albaca Dabra















Andai kamu masih ada disini
duduk manis di ruang tamu
seraya menatap taman
Ada satu bunga dengan tujuh warna
Namun kemarin...............
Musim semi seketika berganti
Memaksa rona memilih warna
Saat merah mauku, justru biru katamu
Kopiku yang hilang
Hitammu tak kufahami
Pada ampas kopi yang tak dapat kutuang
Hingga gula pun tak terasa lagi

Kopiku yang hilang
Endapan pahitmu menyisakan sepi.

(Tenggamus 19 Mei 2914)

Kamis, 06 November 2014

Rindu dan Sula yang Membunuh

Oleh: Abu Gybran

















18 November, lekat dalam ingatan
Dekat, sangat dekat. Bahkan seakan tanpa jarak
Di otakku yang sudah tak waras
Tidak ada tanggal dan bulan lain, semuanya 18 November
Sudah terpatri. Akan selalu menjadi rindu
Rindu disetiap waktu.
Menjadi sula tajam yang membunuh, rindu yang merenggut
Mengoyak-ngoyak ketidakmampuanku, mengingat hari yang lain
Ketiadaan dirimu telah merubah jalan yang semestinya kita lalui
Aku berada pada jalan yang tidak aku sukai
Jalan sunyi yang di kiri dan kanannya adalah pagar sepi

Jalan sunyi yang kulewati dipenuhi rindu yang kutinggalkan di belakang
Setiap langkah adalah rindu yang kujatuhkan
Berharap segera habis
Sebab mustahil aku bisa menjamah dirimu di ketinggian mimpimu
dan mimpi orang yang tak kukenal
Aku hanya memiliki rindu yang tersisa
Rindu bermata sula tajam dan membunuh
jiwa yang merapuh

18 November
Otakku sudah tak waras

(Tangerang, 06 Nopember 2014) 

Rabu, 29 Oktober 2014

Curhat Melalui Puisi

Oleh: Abu Gybran

















Pada siapa?
Mencurahkan isi hati yang sudah menyesaki ruang-ruang dada, tak tertampung
Keluh yang tak menemukan jalan keluar
Resah yang tak menemukan jalan ketenangan
Sendiri tak lagi sanggup menghindar dari kejaran bayang-bayang yang menyiksa
Waktu telah membenturkan diri dan menyeret pada tempat yang tak pernah disinggahi
Terasing di ruangan sepi

Pada hujan?
Hujan tak pernah memahami betapa selama ini aku selalu mengajaknya bicara
Sesaat, dia pergi dan hanya menyisakan tanah basah
Hujan tak pernah mendengar keluhku

Pada angin?
Angin hanya mengusap wajah resah, tapi tak membawanya pergi menjauh
Resah yang menebal menutupi aliran darah, ketenangan yang tersumbat
Angin membekukan resah dan mengeras

Pada siapa?
Pada-Mu, Tuhan
melalui puisi curahan hati kutulis berbaris-baris
Kadang terpenggal tak semuanya utuh. Terlempar hingga ujung garis
Aku sudah tak mampu lagi memilah kata-kata yang dapat mewakili keluh dan resah
Puisi yang sulit dimengerti, tapi ada jiwaku yang hidup di dalamnya
Aku sudah tak peduli, sebab raga pasti mati
Tapi tidak dengan puisi.

(Tangerang, 29 Oktober 2014) 


Selasa, 14 Oktober 2014

Seribu Janji Seribu Kata Dusta

Oleh: Abu Gybran

 















"Tanahku yang kucintai
engkau kuhargai"

( 1 )
Seribu janji dan seribu kata dusta mengiringi di belakangnya
laksana rangkaian doa yang terus diucapkan
Pada mereka yang menunggu mukjizat perubahan
Menyampirkan asa pada sosok yang mengenakan jubah keadilan

Dajal yang mengaku telah mendapat amanat dari Tuhan
Penipu yang telah mengaku bertemu dengan Rasul Kekasih Tuhan


Mereka yang berharap mukjizat perubahan, tidur lelap dalam mimpi yang tak berkesudahan
Mimpi-mimpi yang dibagikan, di sana
Di alam angan tanpa wujud, di negeri dongeng antah berantah

Janji dan kata dusta hanya didapati dalam lembaran-lembaran kitab setan
Penuhi rongga-rongga, mulut berliur bisa mematikan

Mereka, rakyat jelata melakukan ritual kematian dalam pesta lima tahunan
terjebak dalam pusaran dua kata; janji dan dusta. Penipu yang menyamar ratu keadilan
Menelan gunung, meminum lautan dan menyantap hamparan hutan
dalam gelimang penderitaan mereka yang tak berkesudahan
Mereka yang telah mengantarkan Dajal pada singgasana kekuasaan
Mengais-ngais muntahan
Sekadar menjaga agar napas tak terputus dalam kerangkeng kemiskinan

( 2 )
Wooooiiii.........!
Kalian bukan orang-orangan sawah yang kepanasan dan kedinginan
Kalian bukan budak-budak yang kehilangan kemerdekaan
Kalian bukan santapan yang terhidang di meja makan
Kalian bukan mesin-mesin produksi perusahaan
Kalian bukan wayang-wayang yang hanya bisa bergerak jika dimainkan 

Pewaris negeri ini adalah kalian
Sawah, gunung, hutan dan lautan adalah milik kalian
Bangun dan bangkitlah kalian

Dari mimpi panjang yang tak berkesudahan
Dari kerangkeng kemiskinan
Dari belenggu penipu yang memenjarakan
Dari Dajal yang merampas kemerdekaan

Bersatu kalian, merdeka dalam satu tujuan
Bunuh dan matikan ketidakadilan

( 3 )
Penipu dan Dajal tangannya terikat oleh janji dan kata dustanya sendiri
Ditikam keserakahan
Meninggalkan catatan merah darah dalam lembaran-lembaran kitab setan

( 4 )
Tanah kami
Ya, tanah aku dan kalian
Tanah dimana kita menabur kebaikan
Tanah syurga
Ya, disini. Di tanah yang kita pijak
Bukan di tanah negeri dongeng

(Tangerang, 14 Oktober 2014)

Jumat, 10 Oktober 2014

Kegaduhan Cinta

Oleh: Abu Gybran
















Riuh angin yang meriuh memanggil hujan
Nyalak halilintar penuhi undangan hujan yang memanggil
Gelegar yang menggemuruh menghancurkan segala kerapuhan
Penyesalan yang meluluhlantakan kesetiaan yang terpelanting di separuh jalan
Kegaduhan cinta, aku telah dikalahkan oleh waktu yang merenggut
Bersama angin, hujan dan halilintar
Kau biarkan aku terkapar
Ditikam sepi hati yang terbakar

Senja jatuh di pelukan malam, tertatih aku menapaki kelam
Menanggalkan semua kisah suram
Kegaduhan cinta, kisah suram kubiarkan tidur di atas tilam
Membiarkan, sebab waktu juga yang akan menenggelamkannya hingga karam

Ribuan kali aku menepis bayangmu, tak kupungkiri
Asa pernah kusampirkan pada indahnya lengkung senyummu

Menapaki sisa perjalanan, dalam kesendirian mengakrabi sepi yang sudah menjadi bagian
lembaran hidup. Menyatu dengan waktu
Menikmati tiap desah napas tanpa kesah
Aku sudah terbiasa membiarkan bayangmu yang kadang berkelebat, tanpa harus mengingatnya
Aku bisa
Aku sudah terbiasa
Waktu lalu telah banyak bicara padaku
Bersama sepi aku ingin kembali membangunkan mimpi yang mati suri
dari sepenggal malam, sisa waktu yang masih ada.

(Tangerang, 10 Oktober 2014)
  

Rabu, 17 September 2014

Rindu Yang Merebah

Oleh: Abu Gybran














Kala menyusur meninggalkan langkah melemah
di belakang tertatih, tertinggal jauh
Asa mati di tengah jalan, padahal belum sampai pada tepi
akhir dari ribuan mimpi
Di persimpangan kau berbelok arah, lepaskan genggaman tangan
mencampakkan kata setia
Aku yang berdiri mematung sementara kala terus berlari menyeretku
Rindu telah ikut merebah, berbaring di jalan sunyi berdebu

Aku sudah tak mengenali; siapa aku?
Kala telah menelanjangi segala kebodohanku. Kesombongan yang menjumawa
Padahal (saat itu)
langkah hampir memasuki gerbang senja
Kesenangan yang menipu dan aku tertipu
Lengkung senyum milikmu
Duhai bunga, cinta yang menghilang entah di mana

Memasuki senja, memasuki alam sunyi
sendiri

(Tangerang, 17 September 2014)           

Selasa, 16 September 2014

Kusampirkan Rindu

Oleh: Abu Gybran














Sudah begitu lama
Kusampirkan rindu di ranting-ranting kering
yang mati ditikam sunyi
Tidak ditemukan lagi bait-bait syair dari rangkaian kata puja
kelu diam tak berkata-kata
Untuk apa mengenang? Sebab bunga takkan tumbuh kembali di ranting mengering
Bunga telah rebah, menghitam di tanah merah yang tak lagi basah
Rindu kutinggalkan sendirian
di sana

(Tangerang, 16 September 2014)


Rabu, 10 September 2014

Perempuan Ketiga

Oleh: Abu Gybran

Lelaki paruh baya telah menghabiskan separuh jalan hidupnya
Banyak warna telah menghiasi tiap jejak yang ditinggalkan
dari yang nampak jelas hitam dan putih hingga samar yang tersembunyi dalam remang malam
Langkahnya sudah melambat, berat
Beban menggelayuti kedua pundaknya yang merapuh
Diikuti tiga perempuan berbaris di belakangnya
Perempuan pertama, kedua dan ketiga dengan cerita yang berbeda
ada dalam catatan hariannya. Catatan itu telah lama dibiarkannya
Sudah tidak menyisakan halaman kosong
Perempuan ketiga telah menghabiskan halaman kosong tersisa
Dengan segala kemanjaan yang memperdaya, lelaki paruh baya lupa
Langkah hampir di ujung senja

Sebisanya cerita ditulis pada tanah basah atau pada tanah berdebu
tentang perempuan ketiga
Sebab dia sudah tak yakin ingatannya mampu menampung sisa cerita
Sepenggal dari perjalanan hidupnya hingga batas senja

Kesetiaan menguji ketiga perempuan

Jalan mulai bercabang dan tiap persimpangan menjanjikan
Keindahan dan kebahagiaan
Godaan melucuti kokohnya kesetiaan
Dan perempuan ketiga berhenti di persimpangan jalan
berbelok arah. Lelaki paruh baya telah kehilangan

Cerita yang ditulis pada tanah basah telah terhapus hujan yang menderas
Cerita yang ditulis pada tanah berdebu telah disapu angin yang menggemuruh
Tidak menyisakan apa pun
Kemanjaan telah hilang di persimpangan jalan
Jalan sunyi menuju batas senja
Lelaki paruh baya sudah tak mau lagi mencatatkan perjalanan yang tersisa
.........................

(Tangerang, 10 September 2014)
   

Senin, 01 September 2014

Wajah Dalam Gelas Anggur Merah

Oleh: Abu Gybran















Dalam pencariannya, dia sudah tak menghitung hari lagi
Keputusasaan yang menggerogoti dinding hati yang merapuh
Masih juga berharap, untuk apa?
Bunga sudah tak tumbuh lagi di taman, menghitam dan sudah lama jatuh
Sudah di makan cacing
Wangi tubuh dan keindahannya hanya tersisa dalam ingatan yang melemah
Lelaki separuh abad, mencari bayang wajah tersisa itu dalam gelas anggur merah
Dia telah dikalahkan oleh waktu yang menggilasnya
Ditipu setan dan ditindih dengan setumpuk harapan palsu
Dalam gelas anggur merah, bayang wajah yang dicarinya
melompat bergelayut di langit-langit kamar
Segelas anggur merah habis tak menyisakan apa pun.

Setan tertawa, menari-nari di pojok kamar
Duh, lelaki separuh abad itu terkapar
Cinta yang ditemukannya lama menghilang
Di tubir jurang
Dia ingin mengakhiri pencariannya yang panjang
Hah......Dia telah dua kali dikalahkan
Oleh waktu yang menggilas dan cinta yang membunuhnya

(Tangerang, 01 September 2014)