Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Oktober 2014

Perjalan Hidupku.

Oleh: Abu Gybran

Terjun bebas. Ya, terjun bebas. Dulu aku terkurung oleh tembok pabrik puluhan tahun. Terlalu lama memang, kalau saja tidak diingatkan oleh waktu, mungkin hingga kini aku masih terkurung. Tanpa disadari ada sebagian kebebasanku yang terenggut, terpasung dalam ketidak-pastian. Hidup dalam kekangan sebuah aturan yang kadang bertolak belakang dengan keinginan hati. Kebebasan yang dilumpuhkan. Walau pada sisi yang lain (aku merasa) penghasilan memang cukup sekalipun harus berakrobat mengaturnya agar cukup untuk kebutuhan satu bulan. Tapi selama menjadi buruh pabrik hampir saja aku tak dapat mengenali diriku sendiri. 

Oleh karenanya, aku tidak menyesal atau sedih ketika dipecat oleh pimpinan managemen pabrik walau tanpa alasan yang jelas. Aku menerimanya dengan lapang dada.

Kini aku hidup di luar tembok pabrik. Duh, ternyata dunia ini luas sekali. Aku bisa menyaksikan kapan matahari terbit dan tenggelam. Aku seperti berada ditempat lain, bukan di dunia yang selama ini aku kenal. Aku bisa pergi kemana aku suka. Aku bisa menulis puisi seharian tanpa takut diawasi manager pabrik. Aku merdeka dan merasakan hidup yang sesungguhnya.

Di luar tembok pabrik, aku telah menemukan jati diriku. Hidup yang sebenarnya hidup. (bersambung)

Rabu, 23 Mei 2012

AKU MENCINTAI KALIAN

Suara Hati
Untuk Orang-Orang Yang Aku Cintai
Oleh: Abu Gybran

Ini soal perasaanku terhadap kalian orang-orang yang aku cintai; kadang aku berpikir untuk memberikan seluruh kehidupanku pada kalian sesempurnamungkin tanpa kekurangan sedikitpun. Memberikan kebahagiaan dan kegembiraan seutuhnya pada setiap putaran waktu. Walau akhirnya aku menyadari dan aku berharap kalianpun menyadari, bahwa kekuranganku lebih banyak ketimbang pencapaian yang sempurna dalam memberikan pelayanan pada kalian. Aku sangat bersyukur, sudah separuh jalan aku lewati hidup bersama kalian; aku bangga melihat kalian selalu tersenyum menutupi segala kekuranganku. 

Hidup memang tak selalu seperti apa yang kita harapkan. Kalian tahu, ini tentang perasaanku sebagai suami dari istriku dan sebagai bapak dari kalian anak-anakku, bahwa kalian tak akan hilang  disetiap desah nafasku. Dalam benakku; aku kan senantiasa mengingat dan menikmati seluruh pahit-manis hidup bersama kalian. 

Aku bahagia
Sungguh, bahkan teramat bahagia. Hidup bersama di sebuah rumah sederhana yang damai dan jauh dari suara bising kebohongan, kata dusta dan kemunafikan. Ya, walau rumah sederhana tapi inilah rumah kita tempat kita merajut segala impian.
Dengarkan
Apapun yang aku lakukan semuanya aku persembahkan untuk kalian.

Aku menjadi 'pelayan' buat kalian itu karena betapa aku mencintai dan menyayangi kalian. Dari kalian, aku tidak berharap balasan apapun. Aku ikhlas.

Kadang menerpa rasa malas dalam diri saat matahari pagi menyapa. Kadang langkah terhenti saat hujan menghadang. Kadang udara dingin menggodaku untuk tidak melepaskan kain selimut. Manusiawi, aku sering merasakan semuanya dalam pertarungan untuk memenuhi segala kebutuhan hidup bersama. Tapi aku mampu menepis semuanya sebab kalian telah menyatu dan hidup dalam jiwaku. Kalian adalah semangat yang memberikan energi kekuatan pada tubuh, urat dan tulang-tulangku untuk terus bergerak memberikan kehangatan dalam bingkai keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Sungguh betapa aku mencintai kalian disetiap waktu.    

Aku ingin hidup bersama kalian sampai matahari terbenam di barat. Pegang erat tanganku. Bersama senja yang merona jingga, bersama malam yang perlahan menutupi cerita siang hari. Aku akan mengajak kalian untuk melantunkan doa pada yang Maha Kuasa, Tuhan yang telah memberikan warna pelangi pada keluarga kita, indah penuh warna. Tuhan,....peluklah kami dalam kebenaran kuasa-Mu dan jangan Kau lepaskan. Amin. 

  

Selasa, 24 April 2012

Curhat Pada Tuhan

Tentang Aku Dan Mereka
Oleh: Abu Gybran

Selamat pagi cinta........
Tuhan, aku titip istri dan anak-anakku padaMu. Pada seputih pagi ini aku akan menyusuri lorong-lorong untuk meraih berkahmu; untuk mereka yang aku sayangi sepenuh jiwa. Aku yakin dan percaya bahwa cintaku tak sepadan dengan cintaMu pada mereka. Oleh karenanya tak kan pernah putus aku bermohon padaMu; lindungi mereka, sebab separuh nafas, semangat serta harapanku ada pada mereka.  

Selamat malam cinta.........
Seperti ada yang menuntunku, dalam rehat, sebelum menarik selimut malam, dalam benak selalu terbersit kerinduan untuk melantunkan syair-syair dalam untaian doa; untuk mereka yang aku sayangi sepenuh jiwa. Tuhan, perhatikanlah kami, pada malam hingga pagi memutih tak putus menguntai doa dalam diam dan sunyi. Selimuti kami dengan segala kuasaMu.

Tuhan yang tiada berawal dan berakhir.......
Ini tentang aku dan mereka; istri dan anak-anakku. Kami mencoba mengurai kehidupan yang telah Kau anugerahkan pada kami dengan segala kemampuan yang kami miliki. Terus bergerak dan berkarya, sebab diam berarti mati. Hak kami hanya berkarya, sementara berhasil atau tidaknya merupakan hak Engkau untuk menentukan. Sepenuhnya bersandar kepada kuasaMu. Kami menyadari, bahwa pribadi-pribadi yang baik adalah pribadi yang senantiasa berpihak pada hal-hal yang dapat membawa pada kemenangan. Sebab hidup tidak ditakdirkan untuk selalu menang. 

Istri dan anak-anakku, dengarlah aku berkata;
Hidup ini sekejap saja, serba fana serba terbatas. Ada kehidupan abadi tengah menunggu disana, Di alam tanpa kebohongan, serba ada jelas dan nyata. Kita akan berkumpul disana dalam pelukan kasih dan sayang Tuhan selamanya tak terbatas oleh waktu. Amin. ***