Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Maret 2015

Cerpen: Gaji Terakhir untuk Istri dan Anakku

Oleh: Abu Gybran

Panggil saja aku Sunarto. Aku bekerja disebuah pabrik yang memproduksi benang di sebuah Kawasan Industri Tangerang. Sudah tujuh tahun aku menjalani hidup menjadi buruh pabrik, tepatnya setelah aku menikah dengan gadis pujaanku. Aku bahagia terlebih setelah anak pertamaku lahir. Walau jarang bertemu dengan keluargaku, karena mereka tinggal di kampung, tapi rumah tanggaku berjalan normal-normal saja. Istriku sangat memahami kondisiku sebagai buruh pabrik. Sebagai suami, aku sangat beruntung.

Gajiku tidak besar, bahkam boleh dibilang pas-pasan. Hanya cukup untuk membiayai makan keluarga kecilku. Itu pun aku sudah menghemat luar biasa. Betapa tidak, terkadang makan saja hanya sekali yaitu pada istirahat makan siang. Aku melakukan itu semua agar bisa mengirim uang lebih besar buat istri dan anakku.

Banyak teman-teman sekerja yang memperhatikan cara-caraku menghemat gaji dengan mengurangi porsi makanku. Bahkan di antara mereka mengatakan bahwa aku sangat ngirit hingga tak memperhatikan kesehatanku sendiri. Aku menyadari hal ini, tapi hanya dengan cara ini aku ingin membahagiakan keluargaku. Sungguh lebih baik aku yang merasakan kegetiran dalam hidup ini dari pada istri dan anakku. Aku mencintai mereka dengan segala keikhlasanku. Kebahagiaan yang tiada tara saat aku mampu membuat mereka tersenyum.

Hari terus berjalan menuliskan ceritaku, kesungguhan dan keikhlasan yang aku perjuangkan demi keluargaku yang terkadang bahkan sangat tak memperhatikan lagi kondisi kesehatanku, pada gilirannya aku roboh juga. Aku sakit. Aku didera sakit kepala yang tiada tara sakitnya. Sudah hampir dua minggu aku tidak mampu bekerja. Dan aku tidak memberitahukan keadaan sakitku pada istriku. Aku tidak mau istriku dibebani pikiran macam-macam.    

Beberapa bulan terakhir ini istriku sering menghubungiku melalui hp. Dia menyampaikan bahwa biaya hidup makin tinggi terlebih anakku sudah mulai memasuki sekolah Taman Kanak-kanak (TK). Sementara uang yang aku kirim tiap bulannya sudah mulai kedodoran alias jauh dari pada cukup. Aku memahami semuanya tapi kemana lagi aku harus mencari uang tambahan? Disinilah aku merasakan betapa pusingnya aku menjadi seorang suami. Aku merasakan tekanan yang begitu berat bukan hanya ditempat kerja tapi juga kondisi keluarga yang menjadi tanggung jawabku.

Aku belum sembuh total dari sakitku, tapi aku paksakan untuk mulai bekerja kembali. Aku tidak mau berlama-lama di tempat tidur. Masih lemas sebenarnya, untuk berjalan saja rasa-rasanya aku harus sedikit menyeret kakiku yang terasa berat. Tapi ketika wajah istri dan anaku membayang, aku seperti mempunyai kekuatan untuk melawan rasa sakit. Aku harus tetap bekerja.........

***

Kalau saja aku mempunyai keahlian lain selain menjadi buruh pabrik, mungkin aku tidak akan merasakan kesulitan yang dirasa berat ini. Aku ingin mencoba usaha sampingan yang aku rasa bisa, seperti menjadi tukang ojek. Tapi dari mana aku bisa mendapatkan uang untuk membeli sepeda motor? Sebenarnya banyak teman yang menyarankan agar aku mengkredit motor. Tapi lagi-lagi aku mengukur pengahasilanku. Artinya selama tiga tahun gajiku harus rela dipotong untuk membayar kreditan motor dan selama itu pula uang yang aku kirimkan untuk istri dan anakku berkurang. Sementara istriku sudah berkali-kali meminta kiriman uang lebih karena kebutuhan hidup terus meningkat. Duh, gusti.......!!! Kadang aku hanya membatin menghadapi kesulitan ini.

Aku harus menghemat bagaimana lagi? Bahkan beberapa bulan terakhir ini bukan hanya porsi makanku saja yang aku kurangi, kebutuhan untuk mandi pun sudah tak terpikirkan lagi. Mandi saja aku sudah tidak menggunakan sabun mandi. Bahkan odol untuk sikat gigi, sampai gepeng aku urut-urut untuk mengeluarkan isinya, sudah tak bersisa.

Sepertinya kesulitan belum mau beranjak dari kehidupanku. Memasuki 8 tahun usia perkawinanku, istri dan anakku masih tinggal di rumah mertua. Sebenarnya aku sudah malu sama mertua karena aku belum bisa mempunyai rumah sendiri. Mempunyai rumah sendiri masih sebatas impian. Jangankan rumah, terkadang istriku masih meminta subsidi beras pada orangtuanya jika kiriman uang dariku tidak mencukupi untuk kehidupan sebulan. Aku bersyukur pada Tuhan karena mempunyai mertua yang baik. Tapi sampai kapan aku harus terus bergantung pada kebaikan mereka? Sudah ribuan kali aku melangitkan doa pada Tuhan agar segera dilepaskan dari kesulitan hidup ini. Dan ribuan kali juga aku berusaha menepis rasa putus asa dalam diri ini. Aku berusaha untuk tetap tegar dalam menghadapi semua ini. Hidup adalah pilihan dan aku tidak menyesal menjalani kehidupan yang telah aku pilih. Walau menjadi buruh pabrik sebenarnya bukan dari cita-citaku.

"Kerja apa pun yang penting halal," kata istriku dulu ketika baru beberapa bulan menikah. Aku masih mengingatnya dengan baik. Aku memang bersalal dari keluarga yang sangat sederhana. Bahkan sebagai maharku untuk istriku saat itu hanya seperangkat alat shalat yang bisa aku berikan. Jangan membayangkan ada pesta perkawinan ketika aku menikah sebab itu tidak ada. Hanya selamatan kecil yang dihadiri oleh beberapa keluarga terdekat.

***

Kerjaku mulai tidak normal karena sering didera sakit. Sementara di pabrik, manajeman tengah melakukan pengurangan tenaga kerja. Bayang-bayang pemecatan tengah menghampiriku. Terlebih aku hanya sebagai buruh kontrak ditambah dengan seringnya tidak masuk kerja karena sakit, sudah pasti aku termasuk buruh yang bakal dipecat. Aku pasrah. Walau sebenarnya aku ingin tetap bekerja.

Benar saja, dugaanku tidak salah. Aku dipecat. Kiranya gaji bulan Desember di penghujung tahun adalah sebagai gaji terakhirku. Tanpa uang pesangon sebab aku hanya sebagai buruh kontrak. Aku hanya diberi uang kebijakan perusahaan yaitu separuh dari gajiku. Sebenarnya aku ingin protes terhadap kebijakan perusahaan, tapi aku tidak tahu sebab aku tidak memahami aturan ketenagakerjaan. Lagi, aku pasrah menerimanya.

Sore, saat gerimis. Langkahku gontai keluar dari pintu gerbang pabrik. Tak jauh dari pabrik aku menuju sebuah Anjungan Tunai Mandiri (ATM) yang berada disebuah mini market. Hampir seluruhnya aku kirimkan gaji terakhirku untuk istri dan anakku. Aku hanya menyisakan sedikit uang untuk membayar rumah kontrakan dan kebutuhan lainnya. Sebab aku tidak berniat untuk pulang. Aku harus mencari pekerjaan lain lagi. Istriku tidak boleh tahu kalau aku sudah berhenti kerja. Walau tidak mudah aku akan berusaha untuk mendapatkan pekerjaan baru.

***

Sudah seminggu setelah berhenti kerja, aku belum mendapatkan pekerjaan lagi. Sudah banyak perusahaan yang aku datangin untuk melamar kerja. Tapi hasilnya belum ada. Ada beberapa orang, mungkin seorang calo yang menawariku pekerjaan tapi harus dengan imbalan. Ya, imbalan yang jumlahnya menurutku tidak sedikit. Aku uang dari mana? Duh, gusti. Untuk mendapatkan pekerjaan kenapa harus beli? Aku hanya bisa membatin.

"Susah, mas, cari kerja kalau tidak pake uang zaman sekarang," kata seorang calo yang menemuiku. Aku hanya tersenyum getir. Sudah edan, pikirku, untuk mendapatkan pekerjaan saja harus bayar. Aku tidak boleh menyerah pada keadaan. Aku harus tetap berusaha sebab istri dan anakku harus makan.

Waktu terus berjalan tanpa kompromi. Aku tidak tahu harus memberikan alasan apa pada istriku karena yang jelas aku belum bisa mengirimkan uang lagi. Aku masih menganggur. Bahkan hutang di warung makan yang tidak jauh dari rumah kontrakan, setiap hari makin bertambah. Ingin rasanya aku pulang saat itu berkumpul dengan keluargaku. Sangat jarang aku berkumpul dengan mereka. Aku sangat merindui mereka. Bahkan saking jarangnya berkumpul dengan mereka, rasa-rasanya aku sudah lupa cara memeluk istri dan anakku.

Kondisi kesehatanku benar-benar ambruk. Untuk meredakan sakit kepalaku, aku tidak bisa berobat ke klinik dokter. Hanya meminum obat dari warung. Bahkan kata pemilik rumah kontrakkan, Haji Lukman, aku pernah tidak sadarkan diri. Dalam kondisi seperti itu, yang terbayang di kepalaku adalah keluargaku. Aku tidak bisa menggerakkan badanku, rasanya berat sekali. Yang aku lihat seperti berputar. Aku hanya mampu berbaring tak berdaya. Memohon kesembuhan terus aku pintakan pada Tuhan. Aku tidak mau mati sendirian di rumah kontrakkan. Awalnya aku tidak mau memberitahukan keadaan sakitku pada istri. Tapi pendirianku jebol juga sebab aku merasakan sakit yang luar biasa. Aku khawatir bahwa usiaku tidak lama lagi. Walau aku tahu bahwa mati dan hidup itu ada di tangan-Nya. Melalui pesan singkat atau SMS aku menyampaikan keadaanku pada istriku;

"Mah, bulan ini aku tak bisa berkirim uang. Aku sudah di pehaka dari pabrik bulan kemarin. Uang yang aku kirimkan bulan kemarin, itu adalah gaji terkahir. Saat ini aku sedang berbaring sakit. Aku mohon doamu agar aku cepat sembuh dan bisa untuk mendapatkan pekerjaan kembali. Sampaikan salam kangenku pada anak kita............." 

Selesai mengirim pesan itu, aku merasakan dunia menjadi gelap. Selanjutnya aku seperti berada pada dunia lain, dunia yang tidak pernah aku kenal. Dunia yang terang benderang. Rumah-rumah mewah seperti istina dengan segala keindahan tamannya, aku dapat melihatnya dengan jelas. Seperti dalam khayal. Masyarakatnya yang ramah dengan lengkung senyum yang selalu menyungging menyambut kehadiranku. Aku seperti tamu agung yang sangat dihormati. Aku menuju sebuah istana megah dan di pintu depan istana itu aku melihat istri dan anakku sedang menunggu kedatanganku. Bahagianya aku, kerinduanku membuncah saat itu. Terima kasih Tuhan. ***


Selasa, 24 Februari 2015

Cerpen: Arini Yang Terluka

Oleh: Abu Gybran

Senja baru saja berlalu ketika Arini baru saja tiba di rumahnya. Rumah yang berderet memanjang terdiri dari beberapa kamar. Rumah petak kontrakkan bagi sejumlah buruh pabrik yang menghuninya. Rumah kontrakkan milik Haji Salim itu tidak begitu jauh dari Kawasan Industri Serang Timur. Arini sudah hampir sepuluh tahun tinggal di situ. Selama itu kehidupannya sebagai buruh pabrik belum menunjukkan adanya perubahan. Dia masih suka hidup sendiri, padahal usianya sudah 32 tahun. Arini selalu menolak ketika ada beberapa lelaki yang berusaha melamarnya untuk berumahtangga. Menurutnya, dia belum siap untuk berumahtangga. Dia seperti menyembunyikan sesuatu dalam perjalanan cintanya. Dan itu tergambar jelas dalam status yang ditulisnya di media sosial facebook. Seperti ada rasa kekhawatiran dan rasa takut yang amat sangat ketika hendak menjalin hubungan cinta dengan lelaki yang mendekatinya.

Seperti biasa, selesai melaksanakan kewajiban shalat isya, dia menulis di blog pribadinya. Dan yang ditulisnya selalu tentang kesendiriannya. Betapa dia kesepian, tapi dia tidak tahu harus berbuat apa. Curahan hatinya hanya ditumpahkan pada tulisan yang jika dibukukan sudah menghasilkan beberapa buku. Ada kalanya dia juga menulis tentang kerinduan pada seseorang tapi kemudian dia mencaci-maki dirinya sendiri. Ada semacam kekecewaan yang pernah dialaminya. Seperti sepenggal kisah malam itu yang ditulisnya.........."Aku mencintaimu, tapi dimana kamu sekarang? Aku sudah kehilangan jejakmu. Kau pergi disaat aku benar-benar mencintaimu. Tanpa sebab, kau seperti hilang ditelan bumi. Kau biarkan aku sendiri berjibaku melawan sepi yang menggerogoti tiap waktu. Aku hidup tapi sesungguhnya hatiku telah mati. Mati rasa karena rindu yang menindih. Duh, gusti. Kenapa dahulu aku jatuh cinta padanya? Kegetiran hidup ini aku harus menanggungnya sendiri. Kepahitan hidup setelah aku kehilangan milikku yang semestinya aku jaga. Betapa bodohnya aku ini. Aku telah tertipu oleh napsuku sendiri. Aku tertipu oleh pandangan dan rasa saat itu yang semuanya terasa indah. Indah hanya disatu musim setelahnya kekeringan yang melanda jiwa.........."

Sudah tengah malam tapi Arini belum merasakan kantuk. Dia berusah memejamkan matanya di peraduan, tapi tak bisa. Bayangan masa lalunya selalu saja menghantuinya. Padahal dia sudah berusaha untuk melupakanya. Menjadi buruh pabrik merupakan pelariannya dari masa lalu yang telah merenggut harapannya. Pikirnya, yang penting dia pergi jauh dari kampung halamannya. Dia berharap dapat melupakan sosok lelaki yang dicintainya sejak di SMU. Tapi malam itu Arini benar-benar tersiksa, kenapa bayangan masa lalu pahitnya itu muncul kembali? Dia tidak mau kalah oleh bayangan masa lalu yang telah dikuburnya itu. Arini bangkit dari tempat tidurnya. Dia mengambil air wudhu lalu diambilnya Al-Qur;an. Dia berusaha berdialog dengan Tuhan melalui kitab suci-Nya. Surat Yaa Siin dilantunkannya dengan perlahan dan merdu. Sangat menyayat hati. Arini membacanya terus hingga hatinya kembali mendapatkan ketenangan. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

***

Di kantin pabrik saat istirahat makan siang. Hujan baru saja reda, Arini mengambil tempat duduk paling pojok bersama Anita sahabat akrabnya. Cuaca masih terasa dingin, sesekali angin kecil memainkan ujung jalbabnya. Suasana riuh oleh dentingan sendok yang beradu dengan piring. Siang itu Arini lebih banyak diamnya. Bahkan nasi di piringnya hanya beberapa suap saja yang disantapnya. Nampak kurang berselera. Anita sesekali memperhatikan kelakukan sahabatnya itu, tidak seperti biasanya. Terlebih ketika pengelola kantin siang itu memutarkan lagu cinta nostalgia. Arini menikmati lagu itu begitu mendalam........"Mungkin lebih baik begini//menyendiri di sudut kota ini//kututup pintu hati untuk semua cinta//walau batin ini menangis//Jangan datang atau titip salam//hanya menambah luka di hatiku//hapuslah namaku, hapuslah semua kisah kasih yang pernah ada//Biarlah aku sendiri, menyendiri tanpa cintamu lagi//walau harus kuakui hanyalah kau yang sangat kusayangi//hatiku pun tak ingin mencari pengganti dirimu........"

Anita terkejut ketika melihat butiran air mata meluncur di pipi sahabatnya. Pasti ada yang tidak beres, pikirnya. "Kamu menangis, Rin. Kenapa?" tanya Anita sambil memegang tangan Arini. Arini baru nyadar, dia buru-buru menghapus air matanya. Dia berusaha mengelak dari pertanyaan Anita. Arini berusaha tersenyum untuk menutupi kesedihannya. 

"Kamu baik-baik saja kan, Rin."
"Ya, aku biak-baik saja."
"Terus kenapa tadi sampai menangis segala?"
"Kamu dengar lagu tadi nggak? Liriknya begitu menyayat."
"O, jadi cuma karena lirik lagu tadi kamu sampai menangis? Sampai sesusahnya begitu? Aku nggak percaya. Ceritalah padaku, Rin. Barangkali aku bisa membantumu jika kamu punya masalah. Biasanya nih, kalau gadis menangis karena mendengar lagu cinta, pasti sedang dikhianati pacarnya. Ya, kan?" Tebak Anita sekenanya.

Arini hanya tersenyum sambil menatap sahabatnya. Dan dia berkali-kali mengatakan bahwa dia hanya merasa terharu mendengar lirik lagu yang dilantunkan oleh penyanyi Meriam Belina, bukan karena pacar. Arini memang pandai menutupi masa lalunya. Dia sudah bertekad untuk tidak bercerita kepada siapapun tentang cinta masa lalunya. Pikirnya, untuk apa menceritakan semua yang telah terjadi menimpa dirinya pada orang lain. Luka hati akan kembali menganga. Ya, Arini lebih memilih menutup masa lalunya dengan berusaha untuk tetap hidup sendiri. Dia hanya percaya pada dirinya sendiri.

Siang itu Anita pun menceritakan soal pacar barunya. Seorang buruh pabrik juga, Basuki namanya. Basuki merupakan karyawan baru, belum genap satu bulan. Jadi Arini pun belum mengenalnya. Basuki adalah staff kantor di perusahaan yang memproduksi sepatu itu. Kebetulan rumah kontrakkannya bersebelahan dengan Anita. Jadi wajar saja kalau Anita mengenalnya lebih dekat. Cinta lokasi barangkali tepatnya.

Mendengar nama Basuki disebut, wajah Arini sedikit menunjukan keterkejutan. Seperti ada sesuatu dengan nama itu. Namun dengan cepat Arini membuang dugaan dan rasa cemasnya itu jauh-jauh.

Anita berniat memperkenalkan Basuki, pacar barunya itu pada Arini. Menurutnya sih, kali ini dia ingin sungguh-sungguh menjalin hubungan, bahkan cita-citanya sampai kejenjang pernikahan. Dia sudah bosan hidup berpetualang dengan gonta-ganti pacar. Basuki adalah yang terakhir dan untuk selamanya, keinginannya yang diutarakan pada Arini. "Amin," doa Arini mengakhiri bincang-bincang pada istirahat makan siang itu.

***

Minggu pagi yang cerah, dimana sebagian buruh pabrik menikmati hari libur. Arini bersih-bersih rumah. Ruangan depan yang tidak lebar itu ditata dengan apik. Di sudutnya ada rak buku kecil, beberapa novel dan buku masakan tersusun rapi. Paling atas susunan rak itu ada Kitab Al-Qur'an dan 4 buku agama. Tidak aja meja atau kursi di ruangan itu. Hanya ada kasur lipat sebagai tempat duduk dan beristirahat. Hari itu Arini sedang menunggu sahabatnya Anita dan pacarnya yang akan diperkenalkan padanya.

Sudah jam satu siang, Anita belum juga datang. Mungkin karena hujan. Sebab siang itu hujan memang cukup deras. Arini sampai tertidur menunggu hujan reda. Dia tidak tahu berapa jam dia tertidur ketika suara pintu diketuk berulang. Dia terperanjat sesaat mendengar suara sahabatnya, Anita. Dia bergegas membukakan pintu menyambut sahabatnya.

"Maaf, aku ketiduran tadi," kata Arini yang masih sedikit terpengaruh kantuk
"Nggak apa-apa, Rin. Oya, kenalkan ini Basuki yang aku ceritakan kemarin siang," kata Anita bangga.

Saat kedua tatapan itu beradu, Arini merasakan ada hentakkan yang membentur dadanya begitu keras. Hampir saja dia tak mampu menguasai dirinya. Sama halnya dengan Basuki, dia terperanjat. Dia merasakan hal yang tak pernah diduganya. Keduanya hanya bengong dan diam dengan segala keterkejutan. Situasi itu membuat keheranan Anita yang menyaksikan saat itu terjadi.

"Lha, kok malah pada bengong. Apa kalian sudah saling mengenal?" tanya Anita yang masih diliput rasa keheranan. Pertanyaan Anita menyadarkan mereka dari keterdiaman beberapa saat. Saat itu, Arini langsung mejawab pertanyaan Anita. Tentu saja dengan sedikit agak gagap. Dia berusaha menyembunyikan keterkejutannya pada Anita, bahwa dia belum pernah mengenal Basuki. Dengan senyum yang dipaksakan, Arini mempersilakan keduanya masuk. Arini berusaha untuk bersikap biasa seolah-olah tidak pernah terjadi apapun antara dia dengan Basuki.

Dalam pertemuan yang tidak lama itu tentu saja Arini lebih banyak diamnya. Anita yang banyak bicara, sementara pikiran Arini melayang kemana-mana. Dia tidak fokus, sama sekali tidak tahu Anita bicara apa. Tatapannya kosong, walau terkadang dia tersenyum ke arah Anita dan itu hanya untuk menutupi kekacauan pikirannya. Ya, pikirannya sangat kacau. Betapa tidak, sosok lelaki yang bersama Anita yang kini ada dihadapannya adalah orang yang sedang berusaha untuk dilupakan. Orang yang dicintainya, orang yang selalu dirindukannya dan orang yang selalu ditunggu kehadirannya. Basuki orang yang meninggalkan Arini kekasihnya yang tanpa alasan itu. Setelah sekian lama Arini diombang-ambing ketidakpastian cintanya, justru Basuki datang bersama sahabat baiknya, Anita.

Teramat menyakitkan, hatinya benar-benar terluka. Arini kini tahu, betapa dahulu dia telah mencintai orang yang salah. Lelaki yang tidak bisa dipegang janjinya. Seperti pepatah; habis manis sepah dibuang. Dan itu Arini mengalaminya. Yang lebih menyakitkan hatinya lagi adalah; kenapa justru Anita kini jatuh dalam rayuan lelaki penipu itu? Dia tidak rela kalau Anita sahabatnya menjadi korban berikutnya. Anita harus diberi tahu, pikirnya.

***

Akhirnya dalam sebuah kesempatan Arini membeberkan masa lalunya pada Anita. Semuanya diceritakan dan tidak ada yang terlewat. Bahwa Basuki adalah masa lalunya. Orang yang telah meninggalkannya dalam ketidakpastian hidup. Orang yang dicintainya yang telah menelantarkannya di belantara sepi.

Setelah mendengar cerita Arini, sikap Anita seperti berubah. Tidak seakrab sebelumnya. Bahkan Anita berusaha untuk menghindari Arini. Cerita Arini sama sekali tak berpengaruh pada hubungan atara Anita dan Basuki. Bahkan Anita menganggap cerita sahabatnya itu hanya mengada-ada. Arini hanya cemburu, menurutnya.

Arini yang terluka kini benar-benar merasa hidup sendiri diperantauan. Dia terpaksa berhenti bekerja karena tidak ingin melihat sosok Basuki. Dia lebih memilih untuk pulang kampung, menghabiskan masa-masa hidupnya bersama kedua orangtuanya. Banyak yang bisa dilakukannya di kampung halaman, di antaranya adalah mengajar mengaji anak-anak kampung. Suaranya yang merdu dalam melantunkan Al-Qur'an, kini kembali menambah ketenangan masyarakat yang tinggal di kaki Gunung Kencana, Lebak.

Setelah di tinggal Arini, kini rumah petak kontrakkan milik Haji Salim itu kosong satu ruangan. Sudah ada tulisan di pintu rumah kosong itu dengan huruf besar: ADA KONTRAKKAN KOSONG. ***       

    

Rabu, 28 Januari 2015

Cerpen: Aku Bukan Janda

Oleh: Abu Gybran

Panggil saja aku Wati. Aku mempunyai seorang anak laki-laki yang usianya baru lima tahun, Doni namanya. Saat aku kerja, Doni aku titipkan pada tetanggaku yang tempat tinggalnya bersebelahan denganku. Rumah petak kontrakan yang aku sebut istana impian. Aku tinggal berdua dengan anakku itu. Sementara ayahnya Doni.......Ach, tidak. Aku tidak mau menyebut namanya. Aku sudah mengubur namanya dalam-dalam. Bahkan mengingatnya pun aku sudah tak mau. Jangan terkejut, bahwa aku tak pernah bersuami tapi akupun tak sudi disebut janda lantaran aku sudah punya anak. Aku bukan janda sebab aku belum pernah menikah dengan siapapun, termasuk orang yang menjadi ayahnya Doni.

Saat aku memutuskan pergi dari rumah orangtuaku, sebuah desa terpencil di kaki Gunung Rajabasa, aku merantau ke daerah Banten di mana aku tinggal saat sekarang ini. Saat itu sudah hamil dua bulan. Tentang kehamilanku, tentu saja kedua orangtuaku tidak tahu. Mereka hanya tahu aku merantau untuk mencari pekerjaan. Aku sengaja tidak pernah menceritakan tentang masalah yang aku hadapi. Tentang hubungan cintaku dengan seorang pria yang aku cintai di mana orangtuaku juga sudah mengenalnya. Ya, aku mencintainya, hingga semua yang aku miliki kuberikan padanya. 

Sebenarnya aku tak mau menceritakan soal ini, saat di mana aku dikhianati. Aku ditinggalkan..........

Dengan berjalannya waktu, aku diterima kerja di sebuah pabrik sepatu. Aku bekerja dalam keadaan hamil yang terus membesar. Aku mengajukan cuti hamil ke perusahaan saat kehamilanku sudah menginjak delapan bulan. Hingga persalinan, sendiri di rumah petak kontrakan. Beruntungnya, tetanggaku ada yang peduli dan menolong memanggilkan bidan. Lahirlah anakku yang kuberi nama Doni. 

Tetanggaku tidak ada yang menanyakan soal suamiku. Mereka tahunya bahwa aku adalah janda yang ditinggal mati suaminya. Seperti pengakuan bohongku saat kali pertama aku tinggal dirumah petak kontrakan yang aku sebut istana impian itu. Ya, istana impian di mana aku berusaha hidup mandiri untuk membesarkan anakku. Jangan tanya soal penderitaan, sebab itu sudah menjadi bagian dari hidupku. Hidup dalam lingkaran kebohongan untuk menutupi aibku. Aku tidak tahu bagaimana menyembunyikan anakku pada orangtuaku jika pada saatnya aku pulang kampung. Duh, aku tidak mungkin meninggalkan anakku. Pernah terlintas untuk menitipkannya di sebuah panti asuhan, tapi naluri keibuanku selalu mengatakannya, tidak. Sebab biar bagaimanapun dia adalah buah dari cintaku. Walau dari sebuah kesalahan yang aku salah dalam memaknai cinta yang sebenarnya. Anakku lahir dari hasil cinta yang terlarang.

***

Dengan pakaian hijab yang aku kenakan saat ini. Aku nampak alim dan anggun, kata sejumlah teman-teman kerja. Tentu saja di antara mereka yang terbanyak adalah laki-laki yang berusaha pedekate terhadapku. Hemmm......andai saja mereka tahu siapa aku yang sebenarnya, mungkin mereka akan menjauh. Aku mengenakan pakaian hijab bukan untuk menutupi betapa hitamnya hidupku. Jujur saja, aku bertobat. Aku ingin mendekatkan diriku pada keagungan Tuhan. Sebisa mungkin aku berusaha melaksanakan segala perintah-Nya. Aku ingin membersihkan lumuran dosa. Seperti hujan yang membersihkan debu-debu yang menempel pada daun kamboja. Terserah apa kata orang, yang jelas aku ingin seperti bunga yang berseri di pagi hari. Menyejukan bagi siapa saja yang melihatnya.

"Cantik, sungguh kamu teramat cantik dengan pakaian hijab itu," kata Ramlan di kantin pabrik saat istirahat makan siang. Aku menanggapinya hanya dengan senyum. Aku sudah hafal dengan rayuan gombal laki-laki. Aku tak mau terjerumus untuk yang kedua kalinya. Aku bukan Wati yang dulu. Banyak hikmah yang bisa aku petik dari perjalanan hidup masa lalu. Masa lalu yang membuatku menjadi dewasa. 

"Ach, biasa saja, mas." Kataku tanpa menoleh padanya yang duduk persis dihadapanku. Sebenarnya aku ingin sekali terlihat judes agar dia berhenti ngegombal. Tapi aku tak bisa. Aku terpaksa sedikit menyungging senyum. Hitung-hitung ibadah, pikirku. Ya, senyum untuk membuat orang senang adalah ibadah, kata guru ngajiku. 

Bukan hanya Ramlan yang sering menggodaku, tapi banyak pula yang lainnya. Tapi tak satupun yang aku tanggapi serius. Aku seperti sudah tak punya cinta. Aku seperti mati rasa untuk persoalan cinta. Entahlah yang jelas aku takut masa lalu itu terulang lagi. Aku hampir tak mempercayai siapapun dalam urusan cinta ini. aku ingin menikmati kesendirianku, toh masih ada Doni anakku yang bisa mengusir rasa sepi itu. 

Doni sudah pandai berkata-kata. Kadang ada kekhawatiran ketika dia bertanya soal ayahnya. Anak seumuran dia memang selalu banyak tanya. Untungnya, dia tak pernah bertanya soal siapa ayahnya. Walau barangkali dia telah merasakan keganjilan itu. Doni selalu bermain dengan temannya, anak tetangga yang tentu selalu bermain bersama ayahnya. Sementara Doni tak pernah merasakan itu. Dia tidak tahu sebenarnya dia pun punya ayah. Sosok ayah yang tak pernah dilihatnya.

Kadang tak terasa air mataku meleleh saat membayangkan Doni bertanya soal ayahnya. Bagaimana aku harus menjawabnya? Duh, Gusti. Aku tak mau anakku menjadi tumbal dari kesalahan yang telah aku lakukan. Biarlah aku saja yang merasakan kepedihan hidup ini. Tapi tidak dengan anakku. Kiranya sudah ribuan kali aku membatin dan memohon pada Tuhan agar diberikan jalan keluar dari segala penderitaan yang aku tutupi dengan kebohonganku. Rasanya ingin sekali aku berteriak agar semua orang tahu bahwa aku adalah perempuan yang telah mempunyai anak tanpa suami. Aku pun ingin menyampaikan pada mereka seterang-terangnya bahwa aku bukan janda sebab aku tak pernah menikah. Namun aku tak sanggup untuk berterus terang pada orang-orang di sekelilingku, termasuk pada orangtuaku. Aku ingin terus menyimpannya, entahlah sampai kapan. Biarlah hanya aku dan Tuhanku yang tahu.

***

Seperti biasa, setiap jam pulang kerja, aku selalu bergegas untuk segera sampai di rumah. Aku tidak mau Doni menungguku terlalu lama dan aku pun tak mau terlalu merepotkan tetanggaku yang ikut menjaga Doni. Untungnya anakku tidak rewel. Barangkali dia sudah dapat memahami keadaan ibunya. Duh, Gusti. Anak sekecil Doni harus ikut terseret-seret dan merasakan kepedihan akibat dari kesalahan masa laluku. Jujur saja, anakku lebih pendiam ketimbang dengan anak-anak yang tumbuh dalam keluarga normal.

 Sesampainya di depan gang jalan masuk menuju rumah kontrakan, aku terkejut melihat Doni sedang duduk dan ketawa-tawa bercanda di depan warungnya Pak Jaka dengan seorang laki-laki yang belum aku kenal. Aku langsung menggendong anakku. Tumben, Doni sedikit agak meronta ketika aku gendong. Rupanya dia meminta untuk duduk lagi.

"Bu, aku mau main lagi sama Om itu," rengek Doni sambil menunjuk laki-laki yang masih duduk di hadapanku
"Hus, sudah sore, sayang. Nanti besok main lagi ya," kataku sambil langsung pamit pada Pak Jaka dan juga pada laki-laki muda yang belum aku kenal itu. Sepintas aku melihat ada senyum tipis di sudut bibirnya. Aku merasakan bahwa dia sedang menatapku ketika aku beranjak meninggalkan warung.

Siapa dia laki-laki muda yang selalu mengajak anakku jajan di warungnya Pak Jaka setiap sore sambil menunggu aku pulang? Jelang satu minggu aku baru tahu namanya, Heryawan, itupun dari Pak Jaka siempunya warung yang juga pemilik rumah kontrakan. Sebenarnya aku tak mau tahu soal siapa dia, tapi aku tak bisa cuwek begitu saja padanya. Terlebih beberapa hari terakhir aku melihat keakraban anakku dengannya. Tidak ada salahnya jika aku mengucapkan terima kasih karena dia telah ikut dan mau menjaga anakku tanpa aku pinta. Karena dia ada niat lain atau tidak, itu bukan urusanku. Sebab kata guru ngajiku; kita tidak boleh berburuk sangka.

"Namaku Heryawan, panggil saja Wawan," katanya memperkenalkan diri di waktu sore yang lain. Ups, jangan salah. Dalam perkenalan itu dia tidak menjabat tanganku. Sebabnya mungkin karena aku berpakaian hijab. Aku tahu perkenalannya itu hanya basa-basi. Biasalah itu, aku sudah hafal di luar kepala kebiasaan seperti itu tak jauh beda dengan kebiasaan laki-laki lain di tempat kerja yang berusaha mendekatiku.

Heryawan memang baru satu minggu tinggal di rumah petak kontrakan yang berderet. Dia menempati rumah  paling ujung. Aku tidak tahu dia kerja atau tidak. Sebab setahuku semua penghuni rumah kontrakan rata-rata adalah pekerja. Dan sebagian besar adalah pekerja atau buruh pabrik. Yang aku tahu soal dia adalah setiap aku pulang kerja sore, dia sudah berada di rumahnya. Pak Jaka juga belum pernah cerita, padahal biasanya dia selalu tahu tentang siapa penyewa rumah kontrakannya.

"Terima kasih, ya, telah ikut menjaga Doni. Maaf kalau Doni suka merepotkan," kataku.
"Ya," jawabnya singkat.

Waw....! Aku terkejut mendengar jawaban singkatnya itu. Kali ini aku keliru menilainya. Sebab biasanya laki-laki itu kalau sudah diberi lampu hijau langsung kege-eran. Tapi tidak dengan Heryawan. Dia malah banyak diamnya ketimbang bicara. Apa karena ia merasa usianya lebih muda dariku sehingga merasa segan walau hanya sekadar bincang-bincang biasa. Atau ini hanya trategi saja untuk menarik rasa simpatiku? Sebab yang aku tahu laki-laki itu banyak akalnya kalau soal urusan perempuan. Terlebih yang dia sudah tahu dari tetangga bahwa aku hanyalah seorang janda dengan anak satu. Walau sejatinya, sekali lagi; aku bukan janda. Jangan tanya sampai kapan aku akan membantah soal statusku ini. Sampai nanti, sampai pada batasnya aku sanggup dan mempunyai kekuatan untuk menjelaskannya pada semuanya.

***
Seiring berjalannya waktu. Kedekatanku dengan Heryawan tak terbantahkan lagi. Sebenarnya aku sudah berusaha untuk menghindarinya. Tapi apalah dayaku ketika aku melihat keseriusannya untuk menikahiku. Dan itu diucapkannya tidak hanya sekali tapi berkali-kali. Jujur saja aku tersiksa menghadapi masalah ini semua. Seperti dihimpit dua batu besar, aku benar-benar tersiksa. Aku berhadapan dengan keraguan yang selalu menjegal. Ya, aku masih ragu dan tidak yakin dia bisa menerimaku apa adanya. Terlebih jika dia tahu statusku yang tidak jelas.

Aku memohon pertolongan Tuhan berkali-kali agar dibebaskan persoalan yang menyiksa batin ini. Aku tidak dan belum mempunyai keberanian untuk berterus terang pada Heryawan. Pikirku saat itu, syukur kalau dia bisa menerimaku apa adanya tapi jika tidak......? Bukan hanya dia tapi pasti orang lain juga akan tahu siapa aku yang sebenarnya. Sebab aku tak bisa menjamin dia bisa tutup mulut tentang siapa aku. Aku tak sanggup membayangkan status baru yang bakal disematkan padaku; janda bukan perawan juga bukan.

Aku pasrah. Aku kembalikan dan memohon pertolongan Tuhan. Dalam keheningan malam, di saat Doni terlelap tidur, dalam shalat tahajud aku berusaha berdialog dengan Tuhan agar dimudahkan dalam menghadapi masalah ini. Aku memohon keberanian untuk mengatakan semuanya pada Heryawan. Besok pagi, semoga aku dapat melihat lengkung senyum pagi dari orang yang kukagumi.***

            

Selasa, 08 Juni 2010

Cerpen: Getirnya Ranjang Pengantinku

Oleh: Abu Gybran


Cerpen ini terinspirasi dari perjalanan hidup seorang teman Buruh Migran Indonesia yang bekerja di Taiwan.


Udara cukup terik saat aku tiba dikampung halaman dari rantau yang cukup jauh bagi seorang perempuan muda seperti aku, Brunei Darussalam. Ditingkahi kicau burung gereja, desir angin yang meniup dedaunan akasia yang ada disamping rumah, seakan ikut menyambutku. Bekerja di sebuah restaurant China, sebenarnya bukan sebuah pilihan hidupku. Tapi keadaanlah yang memaksa aku untuk memilih profesi ini. Di kampungku, Blitar bagian selatan, kehidupan keluargaku tidaklah tergolong keluarga yang berkecukupan, ditambah sulitnya lapangan kerja yang membuat aku nekad kerja di negeri orang. Ya,.....walau hanya sebagai tukang cuci piring. Orang tuaku bilang aku kerja ngebabu.

Aku terharu melihat keluargaku yang begitu gembira menyambut kedatanganku, terlebih kedua orang tuaku. Aku menangis haru, saat ibu dan kakakku, Lastri, memelukku erat. Kerinduan yang membuncah terbalas sudah. Kebahagian yang sulit aku lukiskan. Terima kasih, Tuhan, syukurku berulang-ulang, membatin.

Ibu menatapiku terus. Seperti ada sesuatu yang dicarinya dari anggota badanku. Tapi sesaat kemudian aku melihat senyum yang mengembang disudut bibirnya yang terus dirambah usia.

"Kamu sehat, En", ucapnya masih penuh selidik. Walau sesekali dia masih memperhatikan tangan dan kakiku. Kasih sayangnya terasa menyejukan.

"Enha sehat, baik, berkat doa ibu, bapak dan semua keluarga", terangku.
"Tapi badan kamu agak kurus, En", sela kakaku, Lastri.
"Lha, itu sih dari dulu", sergah bapak. Semuanya tertawa dan aku hanya tersipu.

Ach,....lengkap rasanya kebahagiaanku. Ya,...aku ingin mereka bahagia. Dan aku tidak akan bercerita betapa beratnya pekerjaanku. Aku tidak ingin mereka tahu, betapa sakitnya dicaci-maki majikan lantaran sebuah piring pecah saat dicuci. Bagiku, ini adalah resiko pekerjaan.

Sebenarnya aku pulang -disamping kontrak kerjaku selama dua tahun habis- bukan hanya rindu keluarga, tapi aku ingin membuktikan sebuah janji dari seorang yang sering membuat aku bermimpi. Dan aku sudah berencana untuk tidak memperpanjang kontrak kerjaku. Semua ini aku lakukan hanya ingin mewujudkan mimpiku; hidup bersama orang yang telah lama kurindui. Sudah sekian lama aku menunggu pembuktian dari janjinya. Sebuah janji yang telah membuat darahku berdesir. Ya...janji dari seorang pujaan hati yang selama ini keberadaannya aku rahasiakan dari keluarga.

Sabastian,.......ya, dialah yang membuat hidupku bersemangat untuk menjalaninya, indah dan penuh warna. Tutur katanya telah meluluhlantakan sendi-sendi tulang dan mampu melumerkan kebekuan hatiku. Dia pernah berjanji akan melamarku sepulangnya aku dari Brunai. Walau dipisahkan jarak, dia memang sering menelphonku. Terkadang mendengar suaranya saja, persaanku seperti melayang. Saat rindu memburu kalbu, aku seperti gila. Ach,....betapa aku mencintainya sepenuh jiwa. Bagiku dia adalah separuh napasku. Aku merasakan cinta memang tidak mengenal jarak dan di mana.

"En, jika kau sudah di Blitar, aku akan segera melamarmu", ucapannya yang selalu terngiang ditelingaku. Aku ingin segera berada disisinya, bukan lagi pacar tetapi sebagai isterinya. Harapanku memang terkadang melampaui tingginya bintang. Terlebih aku merasa usiaku sudah tergolong tidak muda lagi untuk ukuran seorang gadis desa, 28 tahun.

Satu minggu dari kepulanganku, ada kecemasan menggantung dalam benakku. Kenapa Sabastian tidak kunjung menemuiku? Padahal aku sudah menunggunya dengan segala harap. Kenapa pesanku melalui SMS tidak dijawabnya? Kecemasanku makin menjadi-jadi seiring waktu yang terus bergulir dan menggerus semua impianku. Aku merasakan waktu seperti telah menguburku dalam sekali. Mulutku tak sempat lagi berkata-kata apa lagi berteriak memanggil namanya. Melalui pesan singkat yang aku terima, Sabastian, kekasih yang aku puja itu bertutur tentang apa yang tengah dihadapinya saat itu. Ketidak-berdayaannya terhadap keinginan kedua orang tuanya telah membuatnya mengambil keputusan yang teramat menyakitkanku. Dia memutuskan aku karena dia tidak mampu menolak perjodohan dari orang tuanya.

"Maafkan aku, En. Aku tidak bisa menolak keinginan orang tuaku yang telah menjodohkanku dengan gadis lain. Tapi percayalah, En, dihatiku yang paling dalam hanya ada kamu. Aku terima segala kebencianmu padaku. Aku sungguh terpaksa mengambil keputusan yang menyakitkan ini. Aku berharap, kau dapat melupakanku. Anggap saja aku telah tiada. Selamat tinggal En....."

Seperti halilintar yang menggelegar di siang hari. Aku terhempas di antara karang-karang terjal. Sakit dan menyakitkan. Penuh luka dan berdarah-darah. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Segalanya telah menjadi gelap dan tertutup.

"Kamu sakit, dik?" tanya kakaku suatu hari. Sebenarnya aku sudah berusaha menyembunyikan kegetiran perjalanan cintaku ini. Aku tidak mau melibatkan keluarga, terlebih terhadap orang tuaku. Tapi rupanya kakaku memperhatikan perubahan yang memang nampak jelas dari raut wajahku. Kecerianku telah lenyap digerus keangkuhan. Bahkan terkadang aku membatin atas ketidakmengertianku terhadap perjalanan cintaku ini; kenapa masih ada persoalan Siti Nurbaya? Aku tidak mengerti jawabannya. Di mana sebagian orang sekarang tengah menikmati kebebasan, aku malah merasakan hasrat dan cintaku terbelenggu. Harapanku hancur berantakan karena sebuah keangkuhan yang sama sekali tidak memahami betapa besar dan sucinya cintaku.

"Aku ada masalah, mbak", suara ku parau. Aku terpaksa bercerita dengan perasaan berat.
"Boleh mbak tahu?"

Aku diam sejenak. Sepertinya berat sekali, lidah seperti terkunci. Kutatap wajah kakaku perlahan. Dia menunggu jawabanku dengan penuh perhatian dan sayang. Aku berusaha tenang saat dia bertanya untuk kali kedua. Aku menarik napas dalam sekali.

"Mbak, tahu 'kan Sabastian yang pernah aku ceritakan sama mbak dulu?" tanyaku lirih.
"Ya, mbak ingat. Pacarmu itu 'kan?"
"Ya".
"Kenapa dia dik?"

Aku terdiam sejenak. Sesekali tanganku memainkan ujung baju. Aku merunduk, bahkan terkadang menengadah. Sulit rasanya menerima kegetiran ini. Tak pernah terbayangkan sama sekali sebelumnya. Kebahagian yang sempat aku reguk, terhapus dan hilang begitu saja. Seperti mimpi indah yang hilang diujung pagi. Embun tak lagi menyejukan hati. Semuanya telah berubah dan menjauh dengan menyisakan kegetiran yang menyesakkan.

"Mbak, aku pulang bukan hanya kangen dengan semua keluarga. Tapi ada hal yang lain. Sesuatu yang ingin aku buktikan yaitu janjinya Sabastian yang akan melamarku........." suaraku terputus karena terpotong ucapan kakaku.

"Lha, kalau persoalannya hanya itu kenapa kamu sedih, dik? Takut ngomong sama bapak dan ibu? Biar nanti mbak yang nyampein. Kalau mbak,.....mbak sangat setuju. Syukur dech, kalau begitu. Kapan Sabastian mau datang kesini ngelamar kamu?" Ungkap kakaku penuh semangat.

Kakaku menatapku, ada senyum tipis di sudut bibirnya. Dia memegang pundakku perlahan dan meminta agar aku menceritakan semuanya. Dengan sesekali aku mengusap air mata yang tak terbendung lagi, semuanya aku ceritakan dari awal perkenalanku dengan Sabastian di Brunai Darussalam hingga menjalin kasih. Bahkan kamipun pulang bersama-sama untuk acara tunangan. Satupun tidak ada yang tercecer, semuanya aku ceritakan sampai di mana saat Sabastian berjanji untuk menikahiku secepatnya.

"Sekarang dia sudah menikah beberapa hari yang lalu, mbak. Dia sudah dijodohkan dengan gadis lain pilihan orang tuanya". Aku menangis dalam rangkulan kakaku. Kakaku merangkul dan sesekali mengusap-usap rambutku yang tergerai panjang. Ada bisikikan lembut yang aku dengar keluar dari mulutnya perlahan. Bisikan yang setidaknya dapat menyejukan hatiku. Kakaku meminta agar aku tetap bersabar dan menerima persoalan ini dengan besar hati. Tidak termehek-mehek, karena jodoh merupakan ketentuan sang Maha Pencipta.

Waktu terus berputar seiring dengan perjalanan hidupku. Perjalan hidup yang aku sendiri masih bingung untuk berbuat apa. Tapi aku tidak mau berlama-lama larut dalam kesedihan. Akhirnya tanpa pikir panjang aku memutuskan untuk kerja kembali ke luar negeri. Tujuanku kali ini adalah negara Taiwan. Aku daftar pada salah satu agen perusahaan penyalur jasa tenaga kerja di Jakarta. Aku sengaja memilih agen di Jakarta, karena aku tidak mau orang lain termasuk Sabastian tahu aku pergi kemana. Aku ingin membuang masa lalu yang menyakitkan itu jauh-jauh.

Dengan bermodal bahasa mandarin yang pas-pasan, akhirnya aku diberangkatkan ke Taiwan. Pekerjaanku adalah pembantu rumah tangga. Aku ditempatkan di Tainan City selatan dari ibu kota Taipe, pada keluarga yang aku panggil tuan Fenghu. Memasuki kali pertama rumah ini, aku seperti merasa tidak nyaman. Sebenarnya aku ingin menepis perasaan ini, tapi batinku seakan membisikan sesuatu agar aku berhati-hati.

Firasatku benar, tidak perlu menunggu terlalu lama kerja pada keluarga tuan Fenghu. Sebenarnya aku mencoba untuk bertahan atas perlakuan nyonya Fenghu yang menurutku sudah di luar batas. Bukan hanya mulutnya yang cerewet dan judes saat mencaci-maki aku lantaran telat menyiapkan sarapan pagi, bukan hanya satu atau dua kali dia menjambak rambutku sekuat-kuatnya. Kalau sudah begini, aku cuma bisa menangis, ya,.....menangis.

Yang lebih menyakitkan lagi adalah perlakuan tuan Fenghu, aku pernah dipaksanya untuk melayani napsu bejatnya ketika dia mabuk akibat pengaruh minuman keras. Malam itu hampir saja aku kehilangan kesucianku. Aku melawan dan aku dapat meyelamatkan diri. Tapi aku harus keluar dari rumah itu karena tuan Fenghu mengusirku malam itu juga. Dalam kebingungan aku menyusuri jalan, aku tidak tahu aku harus kemana? Malam yang sangat kelam........

Beruntung aku masih punya teman yang bisa kuhubungi dan menyelamatkanku dari segala macam kebingungan. Esok harinya aku melapor ke agen PJTKI yang menyalurkan aku. Aku sangat bersyukur karena setelah kejadian itu aku mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Aku ditempatkan pada keluarga yang aku anggap sangat baik, hingga sekarang aku bekerja di keluarga tuan Ko, aku biasa memanggilnya.

***

Saat aku pulang ke Blitar, setelah dua tahun aku kerja di Taiwan dan masa kontrakku habis, kehidupanku sudah kembali normal. Aku sudah dapat melupakan kegetiran hidup yang pernah aku alami. Bayang-bayang Sabastian, walau kuakui belum sepenuhnya hilang, tapi aku sudah dapat menepisnya.

Dalam ketenangan batin yang kembali berirama, aku dipertemukan dengan seorang lelaki melalui teman sekolahku dulu, Marni. Perkenalanku dengan Sunarto, seorang duda, yang usianya jauh di atasku berjalan apa adanya. Bahkan ketika dia bermaksud melamarku, aku tidak merasakan sesuatu yang membuat getar-getar hati. Biasa saja. Aku menghargai niatnya untuk menikahiku. Jujur saja ada pertimbangan lain saat dia benar-benar menikahiku dan aku menerimanya sebagai suamiku, karena aku tidak mau melihat kecemasan orang tuaku. Ya, kecemasan orang tuaku yang dapat aku tangkap karena usiaku yang terus bertambah. Mereka seperti cemas andai aku menjadi perawan tua. Sebuah pernikahan yang aku sendiri gamang untuk menjalaninya. Entahlah.........

Kegamangan itu aku rasakan pada malam pertama; aku tidak menemukan kehangatan pada ranjang pengantinku. Getirnya ranjang pengantinku, dingin dan tak bereaksi saat suamiku menjamahku dengan penuh birahi. Kalau saja aku tidak memahami kewajiban seorang isteri, aku ingin sekali menolaknya. Duh, kenapa aku ini? Kemana ketenangan batin yang sempat kunikmati? Dimana kebahagiaan yang semestinya kureguk pada malam pertamaku? Kegamanganku telah mengalahkan segalanya. Dinginnya hati membuat batinku menangis, maafkan aku suamiku.

Waktu seperti roda yang terus berputar meninggalkan aku jauh. Aku terus berusaha menggapai, membangun kembali puing-puing yang sempat tercecer dan terserak. Aku ingin membangunnya bersama suamiku. Tapi kenapa berat sekali? Padahal aku sudah berusaha seikhlas mungkin menjadi isterinya.

Selama menjadi isterinya, sampai usia perkawinan empat bulan, aku belum pernah sepeserpun mendapatkan nafkah lahir darinya. Biaya hidup berumah tangga nyaris menggunakan sisa tabunganku yang terus menipis. Suamiku lebih banyak diam saat aku minta uang buat belanja dapur.

"Kamu 'kan tahu dari dulu, kalau aku belum dapat kerjaan".
"Tapi, mas, hidup 'kan perlu biaya".
"Sudah, pakai saja tabunganmu dulu, nanti aku ganti".

Sampai tabunganku habis, suamiku belum juga kerja. Terlintas di benakku untuk kembali kerja ke Taiwan. Aku tidak mau menunggu terlalu lama untuk mendapatkan nafkah dari suami. Aku tidak mau bergantung pada jawaban suami yang belum pasti. Harus sampai kapan aku menanti? Penantian yang teramat panjang kian menjuntai dan melelahkan. Bukan hanya persoalan ini saja yang aku hadapi, rumah tanggaku pun yang baru seumur jagung dirundung ketidak-pastian. Entahlah, suamiku berusaha menjauhiku.

Akhirnya untuk kali yang kedua, aku kembali berangkat ke Taiwan. Aku merasakan sesuatu yang ganjil dalam diriku, tidak ada perasaan berat ketika harus meninggalkan suamiku. Tidak ada air mata. Tidak ada tangis saat aku melambaikan tangan perpisahan. Aku pergi untuk mencari sesuatu yang dapat membuat aku tersenyum. Kebahagian yang lama kunanti dan kuimpikan. Aku menyadari waktu memang tidak bisa mundur kebelakang. Aku harus memulainya dari awal kembali. Harapanku cuma satu, hikmah yang bisa kupetik dari perjalanan yang telah kujalani. Aku yakin masih ada setitik cahaya yang dapat menyinariku. Akan kunanti sampai matahari terbit esok hari. ***


*Cerita ini seperti yang dituturkan oleh Enha Patria, sampai sekarang dia masih bekerja sebagai buruh migran di Taiwan.